Pembibitan Sapi Melalui Sistem Kandang Kolektif dan Integrasi Dengan Tanaman

Written by Drh E Nia Setiawati, MP

      Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-1
Impor daging dan sapi bakalan yang dimulai sejak awal tahun 1990-an memberikan indikasi bahwa produksi daging di dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan pasar domestik yang saat ini relatif sangat rendah (rata-rata < 2kg/kap/tahun), sementara rata-rata konsumsi daging di Australia sudah mendekati 40 kg/kap/tahun. Keterbatasan pasokan daging antara lain disebabkan karena produksi sapi bakalan di dalam negeri secara kualitatif dan kuantitatif masih sangat terbatas. Peningkatan produksi daging dapat dilakukan dengan mendorong peningkatan populasi sapi produktif yang dibarengi dengan peningkatan produktivitas Sampai saat ini belum ada peternak komersial yang berusaha menghasilkan sapi bakalan, sehingga hampir 99% pengadaan bakalan dilakukan oleh peternak kecil. Usaha dalam bidang breeding, ternyata kurang menarik bagi petani karena kurang memberi keuntungan yang memadai, bahkan cenderung merugi.

Agar usaha pengembangan breeding dapat menguntungkan petani maka pengembangan model yang perlu dibangun adalah sistem integrasi dengan tanaman (semusim atau tahunan), perbaikan manajemen pemeliharaan (reproduksi) dan penerapan sistem kandang kolektif sebagai basis pengembangan pusat-pusat pembibitan sapi di pedesaan.

Penurunan populasi selain disebabkan oleh tingginya permintaan pasar juga disebabkan oleh tingginya angka kematian anak dan sistem pemeliharaan sapi yang masih sederhana, sehingga potensi biologis belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengimbangi laju permintaan yang ada. Permasalahan yang dihadapi oleh peternak sapi adalah rendahnya kinerja biologis ternak yang ditandai dengan tingginya angka kematian anak, lambatnya pertumbuhan anak mencapai umur jual dan interval kelahiran yang panjang (Panjaitan, 2003). Waktu kelahiran yang tidak tepat yang sering terjadi pada saat ketersediaan pakan terbatas berdampak pada rendahnya berat lahir dan produksi susu sehingga menghambat pertumbuhan anak dan juga berakibat pada keterlambatan birahi kembali setelah melahirkan. Pada kondisi nutrisi buruk, anak sangat rentan terhadap penyakit dan dapat berakhir pada kematian.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka apabila tidak dilakukan upaya-upaya peningkatan produksi sapi dikhawatirkan akan terjadi pengurasan populasi . Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konkrit untuk mengurangi pengurasan sapi produktif, peningkatan mutu genetik ternak, penyediaan pakan lokal berkualitas dan murah serta memperbaiki manajemen sistem pemeliharaan termasuk pencegahan dan pemberantasan penyakit.

KANDANG SAPI KOLEKTIF SEBAGAI MODEL

PEMBIBITAN SAPI DI PEDESAAN

Ternak sapi merupakan komponen penting dalam suatu sistem usahatani. Kehidupan petani hampir tidak dapat dipisahkan dengan ternak meskipun kebutuhan hidup pokok keluarga tani dipenuhi dari hasil tanaman pangan (Mashur et al., 2001).

Sistem perkandangan sapi menggunakan kandang kumpul (kandang kolektif), merupakan alternatif sebagai model pembibitan sapi di pedesaan .

Gambar 1 . Denah Model Kandang Kolektif

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-3

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-2

Keterangan :

1 s/d 10 : kandang individu, di isi 1–2 ekor induk, milik petani yang berbeda

11 : pos jaga 12 : saluran pembuangan

Tujuan didirikannya kandang kolektif tidak hanya untuk keamanan seperti yang menjadi alasan utama saat berdirinya kandang kolekif, tetapi juga untuk menjaga kebersihan lingkungan, memudahkan pembinaan petani dan manajemen reproduksi dan sebagai sumber pupuk organik (pupuk kandang) untuk meningkatkan pendapatan petani. Diwyanto dan Haryanto (2001) dan Soekardono (2002) melaporkan bahwa sistem integrasi tanaman ternak dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 40% berasal dari pupuk organik.

Komposisi ternak yang berada dalam kandang kumpul cukup beragam, tergantung dari tujuan pemeliharaan. Pada kandang kumpul yang berusaha di bidang pembibitan, maka yang dominan dalam kandang adalah sapi induk atau betina dewasa, sedangkan bila usaha sapi penggemukan maka yang dominan berada dalam kandang adalah jantan dewasa.

Ada 4 komponen teknologi yang diterapkan secara terpadu yaitu: (1) Penggunaan pejantan sapi unggul lokal dengan sasaran perbaikan tingkat kebuntingan, perbaikan pertumbuhan dan perbaikan mutu genetis sapi, (2) Penerapan kalender perkawinan dengan sasaran agar anak lahir pada kondisi pakan baik dan cukup tersedia, (3) Penerapan saat penyapihan yang tepat dengan sasaran mempertahankan kesuburan dan kesehatan induk serta mengurangi kebutuhan pakan di musim kemarau dan (4) Perbaikan manajemen pakan dengan sasaran perbaikan ketersediaan pakan dan perbaikan kualitas pakan.

Pejantan menjalankan fungsi pemacek selama 6 bulan, setelah 6 bulan dilakukan penggantian pejantan untuk periode 6 bulan berikutnya. Waktu penyediaan pejantan disesuaikan dengan kondisi setempat dengan memperhitungkan ketersediaan pakan. Intinya musim kawin disesuaikan dengan saat melahirkan pada musim pakan cukup tersedia misalnya pada musim kekurangan pakan (Juli-Nopember) diupayakan tidak boleh ada kelahiran anak. Untuk itu diperlukan pengaturan jadwal perkawinan seperti ilustrasi berikut:

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-4

Adapun kalender reproduksi pada salah satu desa lokasi pengkajian seperti gambar berikut ini:

Gambar 2. Kalender Perkawinan Sapi Bali

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-5

Pada sistim kawin alam keberadaan pejantan sapi unggul menjadi mutlak adanya. Kawin alam dilakukan secara terkontrol, pada siang hari betina birahi dimasukkan ke dalam kandang kawin, setelah terjadi perkawinan, induk segera dikeluarkan dari kandang kawin untuk menghindari pejantan mengawini betina yang sama berkali-kali, sehingga pejantan masih dapat dipergunakan untuk mengawini betina lainnya. Pada malam hari semua induk birahi dikumpulkan sepanjang malam dalam kandang kawin agar semua betina birahi bisa mendapatkan akses pada pejantan. Betina yang sudah dikawinkan, biasanya terlihat lebih tenang, ada perubahan warna dan lendir pada vagina, betina tersebut segera dikeluarkan dari kandang pada pagi harinya. Seekor pejantan unggul dapat mengawini betina dalam satu kandang kolektif antara 50-100 ekor, dimana setiap hari seekor pejantan dapat mengawini betina 2-3 ekor.

Pengecekan kebuntingan dilakukan dalam 18–20 hari setelah kawin. Bila betina kembali menunjukkan gejala birahi berarti belum terjadi pembuahan (belum bunting) sehingga harus segera dikawinkan kembali, sebaliknya jika tidak menunjukkan gejala birahi maka kemungkinan besar induk bunting. Betina yang bunting kemudian dipelihara dan diberi pakan sesuai dengan status kebuntingan dan umur kebuntingan. Pada akhir kebuntingan (umur kebuntingan 8 bulan) sampai melahirkan diberikan pakan khusus yang bergizi, berupa konsentrat sebanyak 1% dari berat badan atau sekitar 2–3 kg/ekor/hari. Hal ini dimaksudkan agar anak sapi dalam kandungan tumbuh baik, induk tetap sehat, berat lahir tinggi, produksi susu induk tinggi, kematian anak pra sapih dapat ditekan.

Strategi percepatan birahi pada sapi dara dan induk setelah melahirkan dilakukan dengan cara: (1) sapi dara yang telah mencapai berat 160 kg secara berkala didekatkan kepada pejantan atau dimasukkan ke dalam kandang kawin dan dikumpulkan menjadi satu untuk menggertak terjadinya birahi dan (2) bagi induk yang telah melahirkan 40 hari setelah beranak, induk secara berkala didekatkan kepada pejantan, dimasukkan ke dalam kandang kawin untuk menggertak terjadinya birahi.

Pada prinsipnya penyapihan anak bertujuan untuk menghemat penggunaan pakan yang terbatas, menjaga kondisi induk agar aktivitas reproduksi (birahi) berjalan normal. Indikator keputusan melakukan penyapihan adalah: (1) Berat anak mencapai ≥ 70 kg dapat segera disapih untuk memberi kesempatan pada induk memperbaiki kondisi tubuh sebelum beranak berikutnya, (2) Kondisi ketersediaan pakan berkurang anak segera disapih dari induk, untuk mengurangi beban induk memproduksi air susu sehingga dapat memelihara kebuntingannya dengan baik. Jika anak disapih ≤ 50 kg maka selain diberikan pakan hijauan yang baik juga perlu diberi pakan penguat seperti dedak dan sebagainya, (3) Dalam kondisi normal anak disapih pada umur 6 bulan, jika memasuki musim kering dapat disapih lebih awal satu bulan yaitu pada umur 5 bulan.

Tiga hari sebelum penyapihan pakan induk dikurangi sekitar 15% dari biasanya. Pengurangan pemberian pakan bertujuan untuk menurunkan produksi susu induk dan membiasakan anak mencari pakan tambahan. Pengurangan pakan juga menjaga agar induk tidak terserang penyakit mastitis akibat kelebihan produksi air susu pada awal proses penyapihan. Tiga hari sebelum penyapihan anak diberi pakan hijauan dengan porsi yang lebih banyak. Selama proses penyapihan diupayakan induk berada tidak jauh dari kandang sapih sehingga masih terjadi interaksi antara induk dan anak. Lama proses penyapihan tiga minggu atau sampai anak sudah bisa makan secara normal, anak tidak mencari-cari induk untuk menyusu, ambing susu induk sudah mengecil yang diperkirakan produksi susu sudah berhenti.

Penanganan pasca sapih dilakukan dengan cara anak sapi diberi pakan dengan kualitas dan kuantitas pakan dalam katagori sedang sampai baik. Dengan demikian, pertumbuhan anak akan berjalan normal seperti disajikan pada grafik berikut ini.

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-6

Gambar 3. Pertumbuhan Anak pada Berbagai Kondisi Pakan

INTEGRASI SAPI DENGAN TANAMAN ( Padi , Jagung , Kedelai )

Pembibitan-Sapi--Melalui--Sistem-Kandang-Kolektif-dan-Integrasi-Dengan-Tanaman-7

Penggunaan jerami dan limbah pertanian lain sebagai pakan dapat berupa jerami padi kering, jerami fermentasi, jerami kacang kedelai, kacang tanah, kacang tunggak, kacang hijau dan lain-lain. Penyimpanan jerami dilakukan untuk persediaan pakan pada puncak musim kemarau. Pemberian pakan anak lepas sapih berupa rumput berkualitas baik, daun pohon, daun legum, untuk dapat mempertahankan laju pertumbuhan pada musim kemarau. Pemberian pada induk tidak bunting berupa rumput atau jenis pakan lain berkualitas rendah, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok (maintenance) selama musim kemarau. Pemberian pakan induk bunting tua berupa pakan dasar jerami ditambah daun legum (turi, lamtoro dan gamal) dengan porsi yang lebih banyak untuk dapat mendukung pertubuhan anak dalam kandungan terutama pada induk yang akan melahirkan pada musim kemarau. Pada saat bunting tua. dapat diberikan pakan tambahan berupa Urea Mineral Block (UMB) digantungkan diatas tempat makanan. Pemberian pakan induk menyusui diberikan dalam jumlah dan kualitas yang lebih baik. Pakan dasar jerami ditambah hijauan dasar legum untuk dapat mempertahankan produksi air susu induk. Ketersediaan pakan pada induk bunting tua dan menyusui bertujuan untuk mempertahankan proses reproduksi induk berjalan normal.

Rumput Setaria ditanam pada pematang sawah, tahan kering, produksi tinggi dan berfungsi untuk konservasi tanah. Legum pohon (gamal dan lamtoro KX2) ditanam pada pagar kebun dan pematang sawah. Tujuannya untuk produksi daun sebagai pakan ternak musim kemarau. Legum ini (turi, gamal dan lamtoro dll) merupakan pakan yang kaya protein dan energi, bersifat suplemen terhadap pakan berkualitas rendah seperti jerami dan lain-lain terutama pada musim kemarau.

Tujuan pembuatan kompos adalah: (1) meningkatkan kesehatan ternak di kandang, kandang dibersihkan setiap minggu, kotoran dan sisa pakan dikumpulkan pada tempat tertentu, (2) memutuskan siklus perkembangbiakan penyakit terutama cacing dan lalat, (3) pembuatan kompos dengan menggunakan atau tanpa dekomposer, (4) digunakan untuk tanaman padi palawija dan hortikultura milik petani dengan hara N 0,68%, C Organik 9,38%, P 0,23%, K 0,55% dan C/N Ratio 13,69 dan (5) dijual untuk menambah kas kelompok dan pendapatan petani

Pencegahan penyakit dilakukan melalui pemberian obat cacing secara rutin, pemberian vitamin dan antibiotik pada anak untuk mencegah diare dilakukan secara insidental jika terdapat anak yang dicurigai sudah terserang diare, pemberantasan dan pengobatan cacing mata, pemberian vitamin pada induk yang baru beranak atau yang baru dipakai kerja untuk bajak.

PENUTUP

Agar usaha pembibitan lebih menarik petani kecil dan pengusaha di bidang pembibitan maka diperlukan upaya peningkatan kinerja biologi ternak sapi melalui penerapan teknologi secara sinergis sehingga dapat menekan angka kematian, memperpendek jarak beranak dan mempercepat pertumbuhan.
Apabila pengembangan sapi dengan manajemen terpadu yang berbasis kandang kolektif diterapkan , diharapkan akan tumbuh pusat-pusat pembibitan sapi di pedesaan dengan produksi yang unggul, seragam dan kontinyu sehingga dapat mendukung penyediaan sapi bibit dan bakalan
Apresiasi perlu diberikan kepada para peternak dan pengusaha pembibitan sapi dengan memberikan harga bibit yang layak sesuai dengan standar mutu (seperti pada penakaran benih padi bersertifikat harganya lebih tinggi dibandingkan dengan gabah untuk konsumsi.

DAFTAR PUSTAKA

Diwyanto, K., . 2002. Model Perencanaan Terpadu. Proyek Pengembangan Sapi Melalui Pola Integrasi Tanaman Ternak (Crop-Livestock System). Badan Litbang Pertanian.

Mashur., A. Muzani, A. Sauki. 2001. Manajemen Kandang Kolektif Untuk Menunjang Integrasi Ternak Pada Sawah Irigasi (Kasus Pada Kelompoktani “ Gerak Maju” Desa Sepakek Kab. Lombok Tengah). Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian. Mataram 30 – 31 Oktober 2001. Hal. 282 – 287

Soekardono, 2002. Integrasi Tanaman Ternak (Crop-Livestock System) Dalam Rangkak Menuju Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Pengkajian Pendapatan Petani Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna. Mataram 20 – 21 Nopember 2002. Hal 139 – 147

Talib, C., K. Ewistle, A. Siregar, S. Bidiarti dan D. Lindasy, 2002. Survey of Population and Production Dynamics of Bali Cattle and Existing Breeding Program in Indonesia. Bali Cattle Workshop. Udayana Ecolodge. 4 – 7 Februari 2002

No Comments Yet.

Leave your comments