Impor Daging

1467391307DALAM pengaturan kesehatan dan pengendalian penyakit, dunia mengenal dua organisasi, yaitu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Mengapa hewan mendapat perhatian yang sama dengan manusia? Karena ada penyakit hewan yang bisa menular kepada manusia atau disebut zoonosis. Pada masa perang, banyak penyakit hewan yang dipergunakan untuk menyerang lawan.

Kita mengenal penyakit anthrax. Bakteri bacillus anthracis itu bisa membuat orang tersiksa kalau sampai tertular dan bahkan mematikan. Oleh karena sifatnya yang menular, dunia membuat pengaturan perdagangan produk asal ternak. Pengaturan dibuat sangat ketat karena jangan sampai manusia menjadi korban.

OIE mendata penyakit-penyakit hewan yang ada di setiap negara dan memberikan peringatan kepada semua negara untuk berhati-hati apabila ingin melakukan importasi. Amerika Serikat, misalnya, dikategorikan sebagai negara yang tidak bebas penyakit sapi gila atau mad cow.

Negara lain boleh saja melakukan importasi daging dari Amerika Serikat, asal sadar akan konsekuensinya. Jika virus itu masuk ke manusia, sistem saraf otak akan diserang dan menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob. Karena begitu menakutkannya penularan penyakit hewan ke manusia dan juga hewan, semua negara di dunia memiliki badan kesehatan hewan.

Badan itulah yang bertanggung jawab merekomendasikan importasi ternak dan produk ternak agar tidak ada dampak merugikan. Aturan importasi dibuat ketat karena semua negara tidak ada yang mau mengambil risiko. Jangan sampai kita asal melakukan importasi dan sekadar mencari harga yang murah, tetapi akibat jangka panjangnya akan jauh lebih mahal.

Kita pernah punya pengalaman buruk ketika penyakit mulut dan kuku menyerang sapi di Indonesia. Kita membutuhkan waktu 100 tahun untuk mengeradikasi penyakit itu. Sekarang Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang terbebas dari penyakit mulut dan kuku. Terus terang kita kaget dengan kebijakan pemerintahan Joko Widodo untuk membuka keran impor daging sapi dan jeroan.

Hanya karena terpukul janjinya untuk menjual harga daging sapi Rp80 ribu per kilogram pada saat Lebaran lalu tidak tercapai, pemerintah lalu memperbolehkan siapa pun untuk mengimpor daging sapi dan jeroan. Bahkan, importir tidak perlu lagi mendapatkan rekomendasi Direktorat Kesehatan Hewan untuk memasukkan daging dan jeroan ke Indonesia.

Peraturan Menteri Pertanian yang dianggap menghambat dan menyebabkan harga daging mahal diputuskan untuk dicabut. Sungguh mengerikan kebijakan yang dilakukan pemerintah itu. Padahal mahalnya harga daging sapi bukan disebabkan peraturan tentang importasi, melainkan karena kita tidak pernah menangani secara benar sistem produksinya.

Kebijakan itu tidak hanya membuat Indonesia akan dianggap aneh oleh OIE, tetapi juga bisa-bisa harga yang kelak harus dibayar akan lebih mahal lagi. Kita tidak bisa bayangkan kalau kasus sapi gila sampai muncul di Indonesia, atau penyakit mulut dan kuku merebak kembali di Tanah Air.

Kita bukan hanya akan menghadapi larangan ekspor ke negara lain, para turis pun akan ketakutan mengonsumsi produk peternakan karena tidak melewati prosedur pengawasan yang seharusnya. Pepatah Minang mengatakan 'Tak pandai menari dikatakan lantai berjungkit'.

Jangan sampai karena ketidakmampuan kita mengelola sistem peternakan secara benar sehingga harga daging mahal, kesalahannya dilimpahkan kepada sistem penanganan kesehatan hewan. Kita ingin mengulangi, tugas negara bukanlah menciptakan harga daging murah, melainkan membuat harga daging wajar. Harga itu di satu sisi harus membuat konsumen mampu menjangkaunya, tetapi di sisi lain mesti mendorong peternak mau meningkatkan produksi.

- See more at: http://mediaindonesia.com/podium/read/664/impor-daging/2016-07-16#sthash.qDOj8AKm.dpuf

No Comments Yet.

Leave your comments