Metode Diagnosa Penyakit Surra

METODE-DIAGNOSA-PENYAKIT-SURRA

Parasit darah Trypanosoma evansi, agen penyakit Surra. (Sumber:http://amin1363.blogfa.com/category/1/life-cycle

Penyakit Surra merupakan penyakit pada ternak yang disebabkan oleh protozoa Trypanosoma evansi. Penyakit ini juga menyerang hewan domestik dan hewan liar. Parasit ini memiliki prevalensi yang tinggi di daerah tropis dan berdampak kerugian ekonomi yang tinggi. Kerugian yang diakibatkan oleh T. evansi ini diperkirakan mencapai US$ 22.4 juta per tahun (Ronoharjo et al., 1986).  Kerugian ekonomi akibat infeksi penyakit Surra diperkirakan lebih besar daripada trypanosomiasis yang menyerang ternak di Afrika, yang diperkirakan berkisar US$ 1.3 Milyar mengingat kerugian akibat turunnya produksi daging dan susu.

Secara umum gejala-gejala klinis Trypanosoma evansi adalah non spesifik dan tidak cukup hanya dilihat dari gejala pathognomonis untuk diagnosis, namun perlu metode laboratoris untuk mendeteksi adanya parasit. Pemeriksaan darah hewan seringkali menjadi masalah mengingat trypanosoma terdeteksi hanya pada saat parasitemia tinggi. Diagnosa terhadap penyakit Surra dapat dilakukan dengan ditemukannya parasit Trypanosoma evansi dalam darah yang hanya mungkin ditemukan pada saat parasitemia. Oleh karena parasitemia terjadi sewaktu-waktu, kemungkinan peneguhan diagnosa yang didasarkan hanya pada penemuan langsung parasit adalah relatif kecil (Nurcahyo, 2014).

Metode diagnosa yang lain perlu dilakukan seperti wet blood film (WBF), pengecatan preparat darah tipis dan tebal (stained thin and thick blood smears). Adanya parasit yang terdeteksi pada pemeriksaan darah adalah merupakan tujuan utama sebagai gold standard method yang dipakai di beberapa laboratorium. Selain di dalam darah, parasit juga dapat ditemukan dalam pemeriksaan cairan tubuh dan jaringan (OIE, 2009).

Pengecatan preparat apus darah dengan Giemsa memiliki sensitifitas rendah. Pada infeksi subklinis, sering kali sulit menemukan parasit dalam darah.  Lebih 50%-80% dari kejadian infeksi trypanosomiasis tidak terdeteksi secara mikroskopis langsung. Kemampuan diagnosis dapat secara signifikan ditingkatkan dengan metode Haematocrit Centrifugation Technique (HCT) yang memiliki sensitivitas hingga 85 trypanosoma/ml (Reid et al., 2001). Dalam daerah yang sama, metode ini digunakan untuk mendeteksi trypanosomiasis di lapangan. Lebih lanjut, sensitivitas deteksi parasit ini dapat ditingkatkan lagi dengan menggunakan buffy coat (lapisan sel darah putih yang berada di atas dari sel darah merah setelah dilakukan sentrifugasi seluruh sampel darah). Selain itu, metode sentrifugasi anion exchange juga sensitif untuk mendeteksi trypanosoma dalam darah dan dapat untuk mendeteksi satu trypanosoma tiap dua mililiter darah (Sachs, 1984).

Metode inokulasi tikus (Mouse inoculation) secara umum dapat diterima sebagai metode yang paling sensitif untuk mendeteksi trypanosomiasis. Jika dengan menggunakan buffy coat untuk menginokulasi mencit, maka sensitivitasnya dapat ditingkatkan 4x lebih baik. Meskipun demikian, metode ini memerlukan banyak hewan percobaan yang mengakibatkan metode ini kurang praktis (Monzon et al., 1990).

Metode serologi telah lama digunakan untuk mendeteksi trypanosomiasis. Deteksi Trypanosoma equiperdum (dourine) telah digunakan di Kanada pada tahun 1920 dengan menggunakan metode Complement Fixation test (CFT). Beberapa metode imunologis juga digunakan untuk mendeteksi antibodi sebagai respon adanya antigen T. evansi. Kemajuan ELISA telah meningkatkan kemampuan diagnosa serologis yang jauh lebih baik. Metode ELISA dapat digunakan pula untuk mempelajari data-data epidemiologi dan memonitor pengaruh implementasi dari penerapan suatu strategi pengendalian terhadap trypanosomiasis. Beberapa metode berbasis antigen juga dikembangkan seperti CATT (Card Agglutination Test) yang sangat bermanfaat untuk penelitian sero-epidemiologi trypanosomiasis pada sapi, kerbau dan unta (Njiru et al., 2004). Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dan validasi terkait enzym immonoassays terhadap antigen dan antibodi yang digunakan untuk survey lapangan. Beberapa reaksi serologis telah dikembangkan untuk menunjukkan parasit secara tidak langsung, diantaranya adalah teknik serologi seperti Fluorescent antybody test (FAT), Radio immunoassay, Enzymlinked immunosorbent assay (ELISA) dan CATT untuk mendeteksi antibodi trypanosoma yang ada dalam serum atau plasma. CATT telah banyak digunakan untuk mendeteksi T. gambiense di Afrika dan kemudian pada tahun 1992 dikembangkan untuk mendeteksi antibodi terhadap T. evansi (Van Meirvenne dan Magnus, 1992). Prinsip dari CATT ini adalah direct agglutination test untuk mendeteksi antibodi terhadap parasit trypanosoma dalam serum atau plasma dari hewan yang terinfeksi.

Metode deteksi antibodi berdasarkan antigen antibodi monoklonal dan poliklonal telah dikembangkan untuk T. evansi. Pengembangan antibodi poliklonal untuk deteksi trypanosomiasis ternyata menunjukkan reaksi silang dengan berbagai spesies Trypanosoma pada hewan. Antibodi poliklonal dari Trypanosoma dapat mengenali seluruh stadium dalam siklus hidup tetapi tidak semua spesies Trypanosoma, dan antibodi monoklonal mampu mengenali epitop parasit ini. Suatu Immunoassay juga telah berhasil diterapkan pada berbagai berbagai sampel di lapangan dengan sistem eksperimental secara in vitro. Antibodi poliklonal yang telah dimurnikan dari protein ekstraseluler Trypanosoma telah digunakan untuk diagnosa ELISA dengan hasil yang baik (OIE, 2009).

            Keunggulan dari teknik antibodi monoklonal adalah kemampuannya sebagai pelacak yang sangat kuat untuk mengidentifikasi imunodeterminan spesifik pada infeksi parasiter, sehingga  dengan cepat dapat diketahui status infeksinya. Kemampuan antibodi yang spesifik mengenal satu epitop dari satu antigen, membuat teknik ini sangat penting (Desquesnes, 1996).

Deteksi antigen dari Trypanosoma dengan menggunakan ELISA, dikembangkan untuk penerapan yang lebih luas. Konfirmasi dari ELISA sangat bervariasi, tergantung dari tujuan yang akan dicapai. Sensitifitas dan spesifitasnya akan lebih meningkat dengan adanya antibodi monoklonal dan sistim indikator yang ada. Uji dengan antibodi monoklonal akan lebih spesifik dibanding antibodi poliklonal. Ini disebabkan karena antibodi monoklonal ditujukan hanya pada salah satu epitop atau permukaan antigen dengan spesifitas yang dikehendaki. Dalam hubungannya dengan deteksi antigen sensitifitas, dapat didefinisikan adanya sejumlah antigen yang terdeteksi oleh suatu uji, sedangkan spesifitas, merupakan suatu kemampuan untuk membedakan senyawa-senyawa yang berkeluarga dekat (OIE, 2009).

            Teknik ini merupakan pengembangan dari ELISA biasa yang ditujukan untuk menangkap antigen. Konfigurasi ini menggunakan antibodi yang dilapisi fase padat untuk menangkap antigen secara spesifik. Konfigurasi selanjutnya sama dengan teknik yang digunakan pada ELISA langsung. Antibodi penangkap antigen dapat dilihat di gambar. Sistim indikator yang dibuat konstan dan berubah adalah titer antibodi primer untuk antigen spesifik. Jika antigen yang akan dilacak, maka dapat digunakan antibodi berlabel ensim yang spesifik sebagai indikatornya. Apabila antibodi monoklonal yang dipilih dalam suatu uji, maka akan lebih banyak dipakai sebagai indikator yang bereaksi dengan epitop yang diteliti, daripada sebagai antibodi penangkapnya (Burgess, 1995).

Deteksi dengan menggunakan metode molekuler dapat dilakukan dengan cepat dengan spesifitas dan sensitivitas yang tinggi. Pada tataran laboratorium berhasil diuji coba penggunaan DNA probe untuk mendeteksi DNA trypanosoma dalam darah atau jaringan (Reid et al., 2000). Selain itu deteksi dengan PCR menggunakan berbagai macam primer juga telah dilakukan misalnya dengan primer NRP, TBR atau TEPAN yang lebih spesifik. Teknik molekuler yang lain yang telah terbukti berhasil baik adalah Loop-mediated isothermal amplification (LAMP) (Thekisoe et al., 2005) dan Taqman (Taylor et al., 2008).

PUSTAKA

  1. Ronohardjo , Wilson A. J., Partoutomo S., Hisrts R. G. 1986. Some aspects of epidemiology and economics of important diseases of large ruminants in Indonesia. In: Proceeding of the fourth International Symposium on Veterinary Epidemiology and economics, Singapore, 303-305.
  2. Nurcahyo, R.W. 2014. Trypanosomiasis pada Ternak di Indonesia. Makalah acara Diskusi panel Surra. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian RI, Jakarta. 17 April 2014
  3. Office International des Epizootics [OIE]. 2009. Trypanosoma evansi infection (Surra) in Manual of Diagnostic Tests and Vaccine for Terrestrial Animals. Chapter 2.1.17. New York, USA.
  4. Reid S. A., Hussein A., Copeman D. B. 2001. Evaluation and improvement of parasitological tests for Trypanosoma evansi Vet. Parasitology. 104, 79-84
  5. Sachs R. 1984. Improvements in the miniature anion exchange centrifugation technique for detecting trypanosomes in domestic pigs. Trans. R. Soc. Trop. Med. Hyg., 78, 561.
  6. Monzon C. M., Mancebo O. A., Roux J. P. 1990. Comparison between 6 parasitological methods for diagnosis of Trypanosoma evansi in the subtropical area of Argentina. Vet. Parasitol., 36, 141–146.
  7. Njiru Z. K., Constantine C. C., Ndung’u J. M., Robertson I., Okaye S., Thompson R. C., Reid S. M. 2004. Detection of Trypanosoma evansi in camels using PCR and CATT/T. evansi tests in Kenya. Vet. Parasitol., 124,187–199.
  8. Van Meirvenne N., Magnus E. 1992. Production and distribution of kits Institute of tropical Medicine laboratory of serology. Antwerpen, Belgium
  9. Desquesnes M. 1996. Evaluation of three antigen detection tests (monoclonal trapping ELISA) for African trypanosomes, with an isolate of vivax from French Guyana. Ann. NY Acad. Sci., 791.
  10. Burgess, G.W. 1995. Teknologi ELISA dalam Diagnosis dan Penelitian. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Thekisoe O.M., Inoue N., Kuboki N., Tuntasuvan D., Bunnoy W., Borisutsuwan S., Igarashi I., Sugimoto C. 2005. Evaluation of loop-mediated isothermal amplification (LAMP), PCR and parasitological tests for detection of Trypanosoma evansi in experimentally infected pigs. Vet. Parasitol., 130 (3–4), 327–330.

No Comments Yet.

Leave your comments