IMPLIKASI GANGGUAN REPRODUKSI PADA PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI

IMPLIKASI GANGGUAN REPRODUKSI PADA PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI

drh. Sri Teguh Waluyo, MP
Widyaiswara BBPKH, Cinagara-Bogor
  1. KONDISI OBYEKTIF:

Peningkatan populasi lambat, produktivitas rendah dan mutu beragam

Upaya pelestarian kelangsungan hidup sapi potong tergantung salah satu diantaranya, keberhasilan induk menghasilkan anak sehat pada saat disapih dalam satu siklus reproduksi. Peningkatan populasi sapi potong masih memiliki peluang yang dapat diandalkan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa system produksi usaha peternakan masih didominasi oleh usaha sampingan yang mempunyai usaha kecil, dan menggunakan teknologi sederhana, sehingga peningkatan populasi lambat, produktivitas rendah dan mutu produksi beragam.

Analisa kondisi:

Dengan tingkat produktivitas sapi potong yang dimiliki saat ini yaitu rendahnya conseption rate (CR), Servis per conseption (S/C) tinggi, calving interval panjang juga masih tinggi angka kematian ternak, karena gangguan reproduksi.

Titik berat ketidak berhasilan hasil IB selain terletak pada kualitas bibit (semen) pejantan, keterampilan zooteknik peternak atau keterampilan inseminator, ternyata sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri, yang disebabkan dominasi sapi silangan.

Keadaan di lapangan mulai tahun 2000 ternyata rumpun sapi silangan mulai mendominasi populasi ternak sapi potong, dalam grafik menunjukan bahwa distribusi semen beku BIB Singosari tahun 2007 s.d 2011 (Juli) didominasi oleh pejantan Bos taurus (Limousin dan Simmental). (grafik.1)

bahkan dikatakan (Diwyanto, K. 2011) produksi semen beku BIB Nasional Simental dan Limousin mencapai 88,63% dan Ongol dan Brahman 11,37%. Sebab dalam aplikasi Inseminasi Buatan (IB) memungkinkan persilangan antar bangsa untuk peningkatan genetis dan produktivitas sapi lokal melalui grading up, crossbreeding, outbreeding.

Alasan peternak menyukai silangan Bos taurus (Limousin dan Simmental) yaitu: bobot lahir lebih tinggi, ukuran tubuh dewasa lebih besar, pertumbuhan yang lebih cepat, dan penampilan yang eksotik, berdasar keempat alasan tersebut berdampak nilai jual ternak lebih tinggi, sehingga pendapatan peternak lebih besar, juga menjadikan kebanggaan peternak.

100_0607

PEDET KETURUNAN SIMMENTAL

  1. PERMASALAHAN:
  2. Sapi Silangan

Dominasi sapi silangan perlu diwaspadai yang dapat mengancam sapi indukkan wajib bunting (SIWAB) sebagai landasan swasembada daging keberlanjutan, karena sapi silangan tersebut reproduktivitasnya cenderung semakin lama semakin menurun.

Fenomena reproduksi sapi crossbreeding di Indonesia adalah depresi reproduksi yang mengakibatkan: anestrus postpartum, repeat breeding, silent heat, sub-estrus, birahi pendek (short estrus), ovulasi tertunda sehingga terjadi kegagalan konsepsi IB.

Sapi crossbreeding akan sulit bunting kembali setelah beranak biasanya disebabkan karena pakan kurang baik, sistem perkandangan yang tidak terdapat tempat umbaran sehingga kurang exercise, pengamatan birahi, body condition scoring (BCS) yang rendah (optimal 3,0-3,5 dengan score 5), juga pada pengendalian siklus hidup cacing kurang diperhatikan.

Disamping itu asupan nutrisi sangat berpengaruh terhadap umur pubertas sapi crossbreeding, sapi-sapi dengan nutrisi rendah umur pubertas adalah 704,2 hari, dengan nutrisi sedang umur pubertas 690,8 hari dan dengan nutrisi bagus umur pubertas adalah 570,4 hari. Umur pubertas dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Pada industri perbibitan sapi crossbreeding, umur beranak pertama pada umur 3 tahun menjadi pertimbangan penting. Sapi crossbreeding muda mencapai pubertas pada umur yang lebih tua daripada sapi Eropa. Semua bangsa Bos indicus dilaporkan mencapai masa pubertas lebih lambat dibandingkan dengan sapi Eropa (Bos taurus).

Rendahnya fertilitas pada sapi crossbreeding disebabkan karena pengamatan birahi yang kurang akurat dengan lama masa estrus 6,7 ± 0,8 jam dengan intensitas gejala birahi relatif lemah. Asupan nutrisi dan lamanya induk menyusui dapat menyebabkan terjadinya anestrus postpartum pada sapi crossbreeding, tertundanya pengeluaran plasenta setelah beranak dan adanya infeksi serta peradangan pada selaput lendir uterus (endometritis) dapat memperpanjang jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi crossbreeding di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus postpartum (anestrus pasca beranak), hal ini disebabkan oleh pakan yang diberikan kurang kualitas maupun kuantitasnya, stres akibat kandang terlalu pengap, kelembaban tinggi, temperatur lingkungan yang terlalu panas, kurang exercise, investasi parasit, penyakit reproduksi, dan kondisi tubuh yang kurus (BCS < 2,0).

Dengan kata lain ketidak suburan atau kemajiran sapi-sapi betina di Indonesia kemungkinan besar disebabkan oleh kelainan fisiologi anatomik dan kelainan patologik saluran alat kelamin betina, terutama cacing dan kekurangan pakan.

Tabel1. Kinerja reproduksi Sapi PO dan Silangan PO-Simental Akseptor IB (Putro 2008)

Kinerja Reproduksi PO F1 F2 F3 F4
CR 80% 68% 60% 39% 34%
S/C 1,20 1,90 2,30 3,40 3,50
Day Open 158 hari 189 hari 205 hari 236 hari 219 hari

Tabel1. Di atas menunjukkan bahwa kinerja reproduksi Sapi PO dan Silangan PO-Simental Akseptor IB silangan PO-Simental menyebabkan; semakin terjadi penurunan angka konsepsi, semakin terjadi peningkatan jumlah inseminasi per kebuntingan dan semakin terjadi peningkatan days open.

pedetpo

INDUK dan PEDET PO

 

Tabel 2. Reproduksi klinis sapi PO dan silangan PO-Simmental akseptor IB (Putro, 2008)

Reproduksi Klinis PO F1 F2 F3 F4
Anestrus postpartum 38% 44% 58% 68% 76%
Endometritis 8% 17% 22% 31% 76%
Repeat breeding 28% 38% 47% 62% 68%
Korpus luteum persisten 6% 13% 15% 19% 16%

Tabel 2. Di atas menunjukkan bahwa reproduksi klinis sapi PO dan silangan PO-Simmental menyebabkan: semakin terjadi peningkatan kasus anestrus postpartum, semakin terjadi peningkatan kasus endometritis, semakin terjadi peningkatan repeat breeding dan semakin terjadi peningkatan corpus luteum persisten (CLP).

  1. Kekurangan Pakan

Bos taurus (Limousin dan Simmental) kurang toleran terhadap jenis pakan yang kandungan serat kasar tinggi serta tidak tahan terhadap gigitan nyamuk dan caplak. Selain itu dari beberapa laporan menunjukkan bahwa sapi crossbreeding yang diusahakan dengan pola dikandangkan ternyata tidak mampu berreproduksi sebaik sapi lokal. Untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, sapi crossbreeding memerlukan pakan yang lebih memadai dan berkualitas integritas fungsional sistem endokrin. Tidak hanya pakan mempengaruhi sintesis dan pelepasan hormon, namun hormon, pada gilirannya, melalui regulasi metabolisme, mempengaruhi kebutuhan nutrisi, kelaparan kronis dan akut, kuantitas dan kualitas protein, pembatasan kalori dan juga defisiensi vitamin dan mineral, mengubah fungsi kelenjar endokrin. Kekurangan nutrisi. Selain itu defisiensi protein, fosfor, yodium, tembaga dan vitamin A dapat juga menyebabkan terjadinya hipofungsi ovarium. Pemberian pakan dalam jumlah yang tidak sesuai mengakibatkan nutrisi yang diabsorpsi ke dalam tubuh sapi tidak memadai dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh penggunaan energi harian, menyebabkan kondisi tubuh sapi memburuk sehingga mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan. Apabila akibat kekurangan pakan yang berkelanjutan dan tidak adanya perbaikan pakan menyebabkan hipofungsi ovarium berubah menjadi atropi ovarium. Atropi ovarium adalah ovarium yang ukurannya kecil dan permukaannya licin karena tidak tumbuhnya folikel sehingga proses reproduksi tidak berjalan sama sekali sehingga menyebabkan gejala anestrus,

Disamping itu menyebabkan beberapa hambatan perkembangan dan penurunan perkembangan embrio karena ekspresi endometrium abnormal yang pada akhirnya akan menyebabkan kematian dini embrio, juga menyebabkan mortalitas pedet tinggi, saat kekurangan pakan dan air yang terus menerus induk menjadi kurus dan gangguan reproduksi, pada induk yang menyusui akan mengakibatkan produksi susu sangat rendah, anak kekurangan susu dan mati.

Hal ini berimplikasi pada biaya pemeliharaan yang sangat besar, padahal penyedia sapi di Indonesia lebih dari 90% berasal dari peternak bersekala kecil biasanya merupakan usaha sambilan yang hanya bertindak sebagai keeper atau user.

General 056.jpg

KONDISI SAPI BALI

Picture5

KONDISI SAPI PO DAN CROSS

Defisiensi nutrisi karena gangguan metabolisme atau kurang pakan sapi2

  1. SOLUSI (TEKNOLOGI)
  2. Recording (Pencatatan)

Kejelasan identitas ternak dan data reproduksinya, memudahkan manajemen reproduksi dan identifikasi komposisi genetik yang diharapkan. Dengan adanya catatan akan mempermudah peternak melakukan pengendalian mutu genetic, dimana darah Bos taurus harus kurang dari 75%, dengan demikian peternak dapat mengetahui kapan melakukan backcross (silang balik) dengan pejantan lokal (PO, Brahman, atau Bali), sehingga meningkatkan genetik lokal dan mengurangi genetik Bos taurus (< 75%)

Adapun recording adalah suatu usaha yang dikerjakan oleh peternak untuk mencatat gagal atau berhasilnya suatu usaha. Untuk keperluan evaluasi dalam usaha peternakan banyak sekali komponen recording yang harus mendapat perhatian. Hal yang perlu diketahui adalah Body Condition Scoring (BCS) yaitu teknik untuk penilaian kondisi dari ternak pada periode tertentu. Tujuan dari penilaian adalah untuk mencapai keseimbangan antara nilai ekonomis makanan, produksi yang baik dan kesehatan. Penilaian kondisi adalah bagian yang sangat berguna untuk sapi bunting dan persiapan manajemen kelahiran. Tujuannya adalah untuk menjamin bahwa kelahiran sapi secara aman terkontrol. Berikutnya pada awal menyusui sapi harus mempertimbangkan nutrisi dan kondisi badan sebagai indikator vital dari kehilangan berat badan. Hal ini dapat menyebabkan metabolisme yang tidak diinginkan dan masalah kesehatan yang lain dan hal-hal yang harus dihindari. Kebanyakan berbagai percobaan pada kondisi sapi bertujuan untuk menunjukkan kondisi ideal untuk produksi maksimum misalnya yang berhubungan dengan kondisi calving dengan potensi susu atau fertilitas. Tetapi secara umum hal yang penting, menetapkan score yang benar untuk memudahkan kelahiran.

  1. Pakan Berorientasi Hijauan

Usahatani ternak sapi menghadapi tantangan penyusutan lahan sehingga produksi hijauan dan hasil samping pertanian yang dapat dijadikan pakan sapi juga ikut berkurang. Disisi lain, usaha ternak sapi dituntut untuk terus memacu produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang terus berkembang. Memacu produksi melalui pemberian konsentrat tidaklah ekonomis, karena harganya terlalu mahal dan terus naik, karena bahan bakunya sebagian diimpor dan bahan baku asal dalam negeri bersaing dengan kebutuhan lain. Untuk menghadapi tantangan tersebut, pengembangan usaha ternak sapi ke depan dapat bertumpu pada ransum berbasis hijauan atau pemanfaatan hasil samping perkebunan, yang tidak lagi dianggap sebagai limbah, namun sebagai sumberdaya (Suharto, 2003).

Produk samping tanaman padi berupa jerami mempunyai potensi yang cukup besar dalam menunjang ketersediaan pakan ternak. Produksi jerami padi dapat tersedia dalam jumlah yang cukup besar rata-rata 4 ton/ha dan setelah melewati proses fermentasi dapat menyediakan bahan pakan untuk sapi sebanyak 2 ekor/tahun. Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal agar disukai ternak maka sebelum diberikan pada ternak dilakukan pencacahan, fermentasi ataupun amoniasi.

Jerami padi yang telah difermentasi siap untuk digunakan sebagai bahan dasar untuk pakan sapi namun dapat ditambahkan dengan bahan pakan lainnya secara bersama-sama seperti hijauan legume (indigofera, lamtoro, kaliandra, turi) yang dibudidayakan di areal pematang atau pagar kebun.

Pemberian jerami disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi. Sapi dewasa umumnya diberikan sejumlah 20 – 30 kg jerami per hari dan dipercikkan air garam untuk menambah nafsu makan. Penambahan bahan pakan lain seperti dedak padi atau hijauan legum dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan di lokasi.

Pola Pembentukan ternak komposit dengan komposisi darah asli/lokal dan Bos taurus dilakukan di wilayah yang cukup pakan dan memungkinkan dikembangkan feed bank, penanaman legume tree.

  1. Pemanfaatan, Pengelolaan dan Pengolahan Pakan

Berbagai sumber pakan dapat dimanfaatkan: limbah pertanian (jerami padi, jagung, jerami kacang-kacangan, kulit buah kopi, kulit buah kakao, buah jembu mente), rumput alam selama musim hujan, daun gamal selama musim hujan hingga awal kemarau, dan legume (turi atau lamtoro) untuk sepanjang tahun.

Keberhasilan suatu peternakan tidak pernah lepas dari efisiensi kuantitas dan kualitas pakan. Hijauan pakan ternak merupakan salah satu factor yang essensial pada pemenuhan pakan sapi. Pakan berupa hijauan sering diberikan pada sapi adalah rumput-rumputan (Gramineae) dan legume (Leguminoseae). Legume sebagai pakan umumnya memiliki keunggulan dibandingkan rumput-rumputan. Dengan demikian diperlukan suatu padang gembalaan dalam usaha peternakan di derah luar jawa.

Adapun usaha yang paling baik untuk memperbaiki padang penggembalaan, khususnya padang penggembalaan alam adalah penanaman legum pada padang penggembalaan tersebut tanpa menghilangkan sama sekali rumput yang ada. Pentingnya legum pada pertanaman campuran adalah karena kemampuannya memfiksasi nitrogen dari udara yang dapat dipindahkan pada rumput. Pertanaman campuran antara rumput dan legum lebih baik dibanding dengan tanaman rumput saja, sebab selain protein, legum juga mengandung fosfor dan kalsium yang lebih tinggi (Reksohadiprojo, 1994).

Disamping itu menurut (Marhaeniyanto, 2009) bahwa tanaman leguminosa di daerah tropis tumbuh lebih lambat daripada tanaman rumput, agar bisa tumbuh dengan baik, maka penanaman rumput dan leguminosa dibuat dalam jalur beselang-seling. Beberapa keuntungan penanaman campuran rumput dan leguminosa : 1) Memperbaiki unsur Nitrogen dalam tanah, karena kemampuan leguminosa untuk mengikat N dari udara, 2) Memperbaiki mutu pakan ternak ruminansia, karena kandungan protein dan mineral lebih tinggi, 3) Daerah tropis yang lembab akan membatasi pertumbuhan rumput, namun dengan percampuran rumput dan leguminosa, leguminosa dapat memperbaiki pertumbuhan rumput, karena akarnya bisa lebih dalam, 4) Tanaman campuran rumput dan leguminosa mampu meninggikan kapasitas tampung sehingga satuan ternak per hektar lebih banyak dan total kenaikan berat badan lebih tinggi.

Pertanaman campuran antara rumput dan legume hendaknya dalam perbandingan yang tertentu agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik, disukai oleh ternak dan dapat menghasilkan pertambahan berat badan yang maksimal. Dibutuhkan keseimbangan yang baik dalam memilih spesies rumput dan legume untuk memperoleh produksi dan kualitas yang tinggi dari hijauan. Keseimbangan antara rumput dan legum yang baik adalah 60 % rumput dan 40 % leguminosa (Susetyo, 1985). Padang penggembalaan rumput dan legume yang dikelola dengan baik dapat menyediakan zat-zat makanan yang dibutuhkan. Mempertahankan berat badan dan pertumbuhan sapi yang merumput.

Dengan asumsi bahwa ketersediaan bahan pakan sumber serat telah cukup (rumput alam, jerami jagung dan padi), maka yang perlu dilakukan adalah mengusahakan pengembangan tanaman hijauan pakan sumber protein yaitu legume (legume pohon dan legume herba).

  1. Pengobatan Penyakit Cacing

Lalu apa yang harus dilakukan peternak? “Peternak harus proaktif menyikapi prilaku dan siklus hidup cacing tersebut,” Artinya, sebelum rumput diberikan kepada sapi atau ternak lainnya, rumput tersebut perlu diangin-anginkan terlebih dahulu, ini bertujuan agar Metaserkaria cacing tersebut mati.

“Penggunaan obat anti parasit internal (cacing) dalam pemeliharaan sapi adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh peternak, karena infestasi cacing adalah suatu fenomena yang akan terus berulang secara periodik dalam siklus pemeliharaan.”

Menurut sumber SPFS FAO untuk Asia Indonesia, beberapa tehnik sederhana dalam melakukan kontrol terhadap infestasi cacing pada ternak sapi dapat dilakukan dengan cara mengatur pemberian pakan dan mengatur waktu pemotongan rumput, suatu hal yang tentunya tidak dapat dilakukan bila sapi dibiarkan mencari pakan sendiri di padang rumput.

Pembuatan kompos dari kotoran sapi juga akan memutus siklus hidup parasit, karena telur cacing akan menyebar melalui kotoran sapi, sehingga bila kotoran sapi dikumpulkan dan digunakan untuk membuat kompos maka siklus hidup cacing akan terputus dengan sendirinya, karena adanya pemanasan pada proses dekomposisi kotoran sapi (34º C).

Suhu yang diperlukan mirasidium untuk dapat hidup adalah di atas 5-6°C dengan suhu optimal 15-24°C. Mirasidium harus masuk ke dalam tubuh siput dalam waktu 24-30 jam, bila tidak maka akan mati. Kemudian, telur dari jenis Fasciola gigantica menetas dalam waktu 17 hari, berkembang dalam tubuh siput selama 75-175 hari, hal ini tergantung pada suhu lingkungannya.

Terkait pemberantasan cacing ini, bahwa tetap bermula dari kemauan peternak, artinya bila peternak menginginkan ternaknya tumbuh sehat maka peternak harus memperhatikan kaidah-kaidah beternak yang baik sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh petugas lapangan.

“Budaya hidup bersih juga dapat diterapkan seperti membersihkan lingkungan sekitar kandang, menghindari genangan air dengan cara membuat saluran air, membuang atau mengumpulkan kotoran sapi dan kotoran jenis ternak lainnya pada satu tempat, sehingga pada akhirnya, peternak meraup keuntungan bukan saja dari ternak yang dipelihara, namun keuntungan lain juga datang dari limbah ikutan seperti pupuk kandang,”

Pengobatan cacing dapat dilakukan secara kimiawi maupun secara tradisional. Pengobatan secara kimiawi yang efektif dapat dilakukan dengan pemberian per oral Valbazen yang mengandung albendazole, dosis pemberian sebesar 10 - 20 mg/kg berat badan, namun perlu perhatian bahwa obat ini dilarang digunakan pada 1/3 pertama kebuntingan, karena menyebabkan abortus. Fenbendazole 10 mg/kg berat badan atau lebih aman pada ternak bunting. Pengobatan dengan Dovenix yang berisi zat aktif Nitroxinil dirasakan cukup efektif juga untuk trematoda. Dosis pemberian Dovenix adalah 0,4 ml/kg berat badan dan diberikan secara subkutan. Pengobatan dilakukan tiga kali setahun (UMM, 2012).

  1. Penanganan Reproduks Sapi Crossbreeding

Untuk perbaikan efisiensi reproduksinya sebagai berikut:

  1. Manajemen merupakan penyebab kegagalan kebuntingan pada sapi crossbreeding, utamanya adalah pakan, sitem perkandangan memiliki exercise dan pengamatan birahi.
  2. Kualitas dan kuantitas pakan, untuk mencapai BSC optimum (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum paling tidak 2 kali setahun.
  3. Penanganan khusus reproduksi tergantung pada masing-masing masalah individu. Pada sapi crossbreeding yang ternyata hanya mengalami birahi tenang, penanganan dilakukan sebagai berikut:
    1. Perbaikan kondisi fisik (body condition score = BCS) optimum untuk reproduksi. Perbaikan kondisi tubuh dapat lebih cepat dibantu dengan perbaikan pemberian pakan, pemberian obat cacing.
    2. Intensifikasi pengamatan birahi individu sapi. Penanganan yang lebih sering, terutama pada waktu malam hari.
  4. Penanganan klinis kasus repeat breeding (kawin berulang), antara lain:
    1. Inseminasi ganda, dua kali masing-masing satu dosis dengan selang 12 jam, terutama pada kasus yang terkait dengan ovulasi tertunda.
    2. Infusi intra uterin antibiotika, misal penicillin kristal 1 juta unit dan streptomycin 1 gram, atau yodium povidone 2% 100 – 250 ml, terutama untuk kasus endometritis subklinis.

Daftar Pustaka

Gunawan; Abubakar; Tri Pambudi, G; Karim, K; Nista, D; Purwadi, A.dan Putro, P. P. 2008. Petunjuk Pemeliharaan Sapi Brahman Cross. BPTU Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Putro, P.P. 1992. Performans reproduksi sapi Brahman-Cross asal Australia di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur and Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Monitoring, tidak dipublikasi.

Putro, P.P. (1993). Induksi birahi and Ovulasi pada sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus and subestrus. Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2008. Sapi Brahman Cross, Reproduksi dan Permasalahannya. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Reksohadiprodjo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. B.P.F.E. University Gadjah Mada, Yogyakarta.

Soegiri, H. S., Ilyas dan Damayanti. 1982. Mengenal Beberapa Jenis Makanan Ternak Daerah Tropis. Direktorat Biro Produksi Peternakan Departemen Pertanian,Jakarta.

Suharto, 2003. Pengalaman Pengembangan Usaha SIstem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit Di Riau. Riset Dan Pengembangan Peternakan PT. Tri Bakti Sari Mas. Riau

Sumarsono, 1989. Pengaruh Kepadatan Populasi Lamtoro (Leucaena leucocephala (LAM) de Wit) Cunningham Terhadap Hasil Hijauan dan Jagung (Zea mays) pada Dua Pola Tanam Tumpangsari. Disertasi Doktor, FPS – IPB, Bogor.

Sumarsono, D. W. Widjajanto, D. R. Lukiwati, T. Yudiarti dan S. Budiyanto. 1993. Hasil dan Kualitas Hijauan Legum Pakan sebagai Tanaman Makanan Ternak dalam Hubungannya dengan Stress Air di Tanah Latosol. Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan UNDIP, Semarang.

Susetyo, S. 1980. Padang Penggembalaan. Penataran Manager Ranch. Direktorat Bina Sarana Usaha Peternakan. Dirjen Peternakan. Departemen Pertanian.

Susetyo, S. 1985. Hijauan Makanan Ternak. Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.

Uum, U. Angggraeny, YN. 2003. Keterpaduan Sistem Usaha Perkebunan Dengan Ternak: Tinjauan Tentang Ketersedian Hijauan Pakan Untuk Sapi Potong Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit. Loka Penelitian Sapi Potong.Grati.

No Comments Yet.

Leave your comments