MEMPERBAIKI PRODUKTIVITAS SAPI PERAH SECARA TERPADU BERDASARKAN FORMULA PRODUKSI SUSU ( P = f + s + h)

MEMPERBAIKI PRODUKTIVITAS SAPI PERAH SECARA TERPADU BERDASARKAN FORMULA PRODUKSI SUSU ( P = f + s + h)

drh. Sri Teguh Waluyo, MP

Widyaiswara BBPKH, Cinagara-Bogor

  1. Pabrik Penghasil (f)

Ambing terdiri dari 2 (dua) macam jaringan pokok, yaitu jaringan kelenjar dan jaringan pengikat.  Jaringan pengikat merupakan jaringan penunjang, sedangkan jaringan kelenjar merupakan jaringan pembentuk air susu.  Ambing terdiri dari dua bagian, yaitu bagian sebelah kanan dan sebelah kiri yang dipisahkan oleh selaput pemisah yang tebal yang terletak memanjang badan sapi dan membantu melekatnya ambing pada tempatnya.  Tiap bagian tadi dibagi lagi, atas kuatir depan dan kuatir belakang yang dibatasi oleh jaringan pengikat yang tipis dan tiap perempatan ambing itu mempunyai saluran tempat keluarnya air susu yang disebut putting.  Rongga putting melebar ke arah rongga ambing (undder cistem).

Pada saat bermuara ke dalam rongga ambing terdapat 8 – 12 saluran air susu yang besar dan bercabang-cabang ke dalam seluruh bagian  jaringan kelenjar, yang mengalir air susu dari alveolus ke dalam undder cistem. Tiap jaringan kelenjar air susu terdiri dari lobule yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh jaringan pengikat yang berwarna putih berkilat.  Sedang warna jaringan susu itu sendiri adalah merah jambu.

Tiap lobus mengandung sekelompok gelembung yang dinamakan alveolus.  Sel-sel yang melapisi alveolus sebelah dalam disebut sel epitel.  Melalui sel-sel ini terbentuk air susu dari bahan-bahan yang terdapat di dalam darah, yang kemudian merengat ke dalam rongga alveolus yang dinamakan lumen.  Susunan sel-sel ini seragam, tiap sel mempunyai inti dan protoplasma.

Di sebelah bawah dari seluruh jaringan dan saluran air susu terdapat sel-sel yang disebut myoepithelium atau sel-sel epitel otot. Karena pengaruh hormon oxytocin, sel-sel ini dapat berkontraksi.  Karena sel-sel ini berkontraksi, maka ambing menjadi kencang dan menurunkan air susu ( let down of milk).  Hormon-hormon tersebut dikeluarkan ke dalam peredaran darah apabila ada rangsangan-rangsangan yang menyenangkan yang diterima oleh sapi dari petugas perah.

Darah dari ambing mengalir kembali ke jantung melalui 3 ( tiga) jalan yakni:

  1. Melewati vena pembuluh balik ambing depan atau vena bawah kulit perut. Vena ini sebaiknya besar berkelok-kelok.  Tempat masuk vena ini ke dalam rongga dada dinamakan wadah susu (milk well).  Apabila milk well ini lebar, besarlah volume darahyang mengalir lewat ini, yang berarti darah yang melewati ambingpun banyak.  Wadah susu sebesar ujung jari ketiga (tengah) menandakan bahwa sapi tersebut berkapasitas produksi tinggi.
  2. Melewati vena kemaluan luar (external pudic vein) yang letaknya paralell dengan arteri kemaluan luar (external pudic artery).
  3. Melewati vena kerapang atau vena ambing belakang atau vena ambing tengah, disekeliling lengkungan panggul ( pelvis)

Meskipun sebagaian besar dari darah yang membasahi semua sel-sel ambing dikembalikan melalui pembuluh balik, sebagaian kecil dikembalikan ke jantung lewat pembuluh getah bening.

Pembuluh ini membawa getah bening dari ambing bagian atas dari ambing lewat getah bening yang dinamakan kelenjar supra mammae (supra mammary lymphe gland). Kedua kelenjar supra mammae ini bertugas menahan bakteri dan benda-benda asing yang terbawah oleh getah bening.

Kelenjar susu seekor sapi betina berkembang sesuai dengan perkembangan embrio dan terbentuk sempurna pada saat lahir dalam bentuk saluran kelenjar yang pada ujung-ujungnya terdapat sel-sel stern.  Sel-sel ini nantinya akan dideferensiasi sel-sel epitel (alveola) yang sesungguhnya berperan aktif dalam sintesis air susu.

Perkembangan kelenjar susu selanjutnya terjadi setelah sapi betina mencapai usia dewasa yaitu pada saat mulai terjadi siklus birahi yang ditandai dengan perubahan sekresi hormon-hormon reproduksi, seperti progesteron dan estrogen.  Kejadian siklus birahi yang berulang-ulang menyebabkan saluran kelenjer susu akan dirangsang secara berulangkali oleh hormon tersebut.  Pertumbuhan kelenjar susu yang paling pesat terjadi selama periode kebuntingan sehingga terbentuk komponen sel-sel kelenjar susu yang terdiri dari sistem pembuluh, sel-sel epitel, jaringan ikat, dan jaringan penunjang tempat sel-sel sekretoris itu bertaut.

Pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu sampai fungsional mensintesis susu terjadi selama kebuntingan yang dipengaruhi oleh kelompok hormon mammogenik (estrogen, progesteron dan plasenta laktogen) yaitu hormon yang merangsang tubuh kembang kelenjar susu.  Hal ini dimulai dari proses pemamjangan saluran kelenjar dan kemudian diikuti oleh percabangan dan pembentukkan lobus alveoler.  Proses pemanjangan saluran kelenjar susu terutama berada di bawah pengaruh progesteron dan plasenta laktogen. Peningkatan ketiga hormon tersebut bertanggung jawab untuk mengendalikan pertumbuhan kelenjar susu selama kebuntingan.

Potensi kelenjar estrogen, progesteron dan plasenta laktogen dalam mammogenesis sudah banyak dibuktikan. Sekresi ketiga hormon tersebut paralel dengan pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu serta bertambahnya usia kebuntingan.  Kelenjar susu saat ini bertumbuh kembang sangat pesat dalam persiapan laktasi.  Namun kadar hormon tersebut dapat bervariasi sesuai dengan usia kebuntingan, terutama berkaitan dengan laju ovulasi (jumlah corpus luteum) maupun jumlah anak (massa plasenta) yang dikandung.  Peningkatan jumlah corpus luteum dan jumlah anak (massa jaringan plasenta) ternyata meningkatkan sekresi progesteron, estradiol dan laktogen plasenta.

Selama periode laktasi, pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu boleh dikatakan sudah behenti, karena konsentrasi hormon-hormon yang merangsang perkembangan kelenjar susu, terutama progesteron, estradioldan laktogen plasenta sudah menurun. Proporsi tertinggi (sekitar 98 persen) pertumbuhan dan perkembangan kelenjar susu pada ruminansia (domba) terjadi selama kebuntingan, sedangkan pada periode laktasi, tumbuh kembang kelenjar susu hanya sekitar 2 persen.

  1. Bahan Baku Subtrat (s)

Bagaimana cara bekerjanya sel-sel epitel dari alveola dalam pembentukan air susu. Untuk membentuk air susu ini diambil bermacam-macam bahan mentahnya dari darah yang mengalir dari pembuluh kapilere yang mengelilingi dasar dari sel-sel tersebut. Kecuali dengan cara sintesa atau hasil metabolisme dari sel-sel, susu dihasilkan dengan penyaringan.

Lemak susu terbentuk dari lemak darah yang bebas dan diperpendek dua gugusan karbonnya; tiap bola; lemak susu dikelilingi oleh selaput tipis yang disebut fosfolipid.

Protein susu sebagaian merupakan hasil sintesa dan sebagian lagi hasil penyaringan.  Kasein dan albumin boleh tidak terdapat di dalam darah; zat-zat ini hasil dari sintesa.  Globulin susu adalah identik dengan globulin darah; zat ini diduga berasal dari glycogen darah. Setiap bahan yang terdapat di dalam darah yang bisa menjadi glycogen , dapat dipergunakan untuk sintesa. Vitamin-vitamin, mineral, urea dari senyawa-senyawa yang beraroma dari makanan, yang melewati peredaran darah masuk ke dalam air susu, tidak usah mengalami perubahan.  Sintesis laktosa di kelenjar susu berasal dari glucosa dengan bantuan enzim laktosa sintetase.  Pada ruminansia, konsentrasi glucosa dalam sistem sirkulasi berasal dari ekstrasi propionat di hati.  Sintesis protein susu berasal dari asam amino yang berasal dari dalam darah hasil penyerapan saluran cerna maupun dari proses perombakan protein tubuh.  Glucosa dan beberapa sumber nitrogen diperlukan untuk sintesis asam amino di kelenjar susu ruminansia.  Sintesis lemak susu terjadi dalam sitoplasma sel-sel kelenjar susu.  Asetat dan C-OH butirat (hasil metabolisme asam butirat) selain itu sumber energi juga digunakan untuk sintesis lemak di dalam kelenjar susu oleh enzim asetil CoA karbosilase pada ruminansia.  Oksidasi glocosa melalui siklus pentose oleh enzim glucose-6-p dehigrogenase emnghasilkan NADPH yang diperlukan  untuk sintesis asam lemak di kelenjar susu.

Laju sintesis komponen air susu terutama laktosa, lemak, dan protein akan semakin berkurang jika ketersediaan subtrat di kelenjar susu semakin sedikit.  Pada periode ini, sejumlah besar cadangan zat-zat makanan yang ditimbun selama kebuntingan  akan dimobilisasi untuk mempertahankan produksi susu.  Tingkat konsumsi induk umumnya tidak memenuhi kebutuhan untuk sintesis air susu, ini menimbulkan neraca nutrien negatif pada awal laktasi, karena sekitar 65 sampai 83 persen metabolisme energi induk akan diubah untuk sintesis air susu selama laktasi.  Hasil mobilisasi asam lemak menyebabkan penumpukan asetil CoA yang tidak dapat memasuki siklus asam sitrat, sehingga akan diubah menjadi benda-benda keton seperti aseton, C-OH butirat maupun asetoasetat sebagai hasil dari kondensasi 2 mol asetil CoA.  Demikian pula, jika terjadi katabolisme protein, hewan akan berada dalam neraca nitrogen urea darah.  Kegagalan metabolisme ini dikenal dengan penyakit ketosis.

Untuk menghasilkan 1 (satu) liter susu diperkirakan perlunya darah mengalir melewati ambing sebanyak 400 liter. Begitulah berat dan sibuknya proses pembentukan air susu di dalam ambing, maupun dalam peredaran darah.

Karena itu sapi yang berproduksi tinggi harus diperlakukan dengan halus, tenang dan penuh rasa kasih sayang dan diberi banyak kesempatan untuk istirahat.

Biasanya hasil tiap perempatan sebelah muka sebanyak ± 20 persen dan tiap perempatan sebelah belakang ± 30 persen; hasil tiap perempatan kanan dan kiri tidak ada perbedaan.

  1. Pelaku Sintesis (h)

Hormon laktogen menimbulkan dan menjaga berlangsungnya laktasi.  Hormon ini terdapat lebih banyak setelah melahirkan, kemudian berangsur angsur berkurang dengan berlanjutnya periode laktasi.  Stimulus yang menyenangkan pada ambing menyebabkan hormon ini dikeluarkan dalam peredaran darah.  Kecepatan sekresi air susu sebagian disebabkan oleh kecepatan produksi dari hormon ini.  Oleh karena itu apabila hormon ini disuntikan kepada ternak yang sedang laktasi, maka bertambah banyak hasil air susu dari hewan itu.

Hormon Tyroxin yang dihasilkan oleh kelenjar gondok (tyroid) mempercepat sekresi air susu, bila hormon ini disuntikan pada ternak yang sedang laktasi, maka sekresi air susu pada ternak tersebut akan dipercepat pula.  Thyroprotein adalah Tyroxin sintesa yang mengalami banyak percobaan-percobaan praktis dan ekonomis untuk memperbanyak hasil air susu.  Tapi hasilnya sampai sekarang masih sangat berbeda-beda. Selain itu Tyroxin (tetraiodotironin dan triiodotironin) sangat vital dalam penyediaan energi ATP dalam proses perakitan glucosa, asam amino, asam lemak dan gliserol menjadi glicogen, protein dan lemak.  Hormon ini telah diketahui mempengaryhi aktivitas metabolisme pada kelenjar susu.

Salah satu obat pengganti hormon ini telah diketahui mempengaruhi aktivitas metabolisme pada kelenjar susu.

Salah satu obat pengganti hormon ini ialah kasein beryodium (iodinated casein) yang diberikan bersama makanan.  Karena pengaruh bahan sintesa ini produksi air susu meningkat, kadar lemak pun demikian.  Proses metabolisme dipercepat dan berat badan mengalami penurunan karena pengaruh bahan ini.  Karena itu kalau memakai bahan ini hendaknya diikuti pemberian ransum yang lebih baik, baik kualitas maupun kuantitasnya, sedangkan pemberian bahan sintesa yang berlebih-lebihan mempunyai efek tidak baik pada tubuh dan kesehatan.

Kortison berfungsi dalam memobilisasi glucosa, asam amino, dan asam lemak untuk tujuan sintesis pada jaringan dan menghambat penggunaan zat-zat makanan untuk tujuan oksidasi dalam sel, dengan merombak cadangan energi tubuh yang akan dibebaskan ke sistem sirkulasi untuk proses sintesis di kelenjar susu.

Insulin berperan untuk membantu transport glucosa, asam amino, dan asam lemak ke dalam sel.  Namun insulin tidak mempunyai reseptor pada sel-sel kelenjar susu, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap transport subtrat ke dalam sel-sel sekretoris kelenjar susu.

Prolaktin telah lama dikaitkan dengan produksi susu.  Ternak ruminansia, berbeda dengan mamalia lainnya, bahwa penekanan prolaktin serum sampai 1 ng/ml dengan pemberian ergocryptin selama laktasi, tidak menurunkan produksi susu pada ternak.  Keadaan ini tidak berarti bahwa prolaktin tidak diperlukan pada laktasi, namun hanya berfungsi mengaktifkan (menginisiasi) bukan memelihara atau mempertahankan sintesis air susu.

Somatrotopin telah terbukti meningkatkan produksi susu pada sapi, domba, dan kambing.  Namun yang menjadi masalah saat ini hormon tersebut harus ditambahkan secara eksogen dan mengandalkan persediaan dari luar negeri.

Daftar Pustaka

Dr. Ir. Masyedi.S. MS., 2004, Fisiologi Proses Produksi Ternak, Program Magister Studi Sumberdaya Ternak, Program Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Lampret. L. M., 1970, Modern Dairy Products, Chemical publ. Co, Inc.

Wiley., 1966, Milk Production and Processing, Wiley and Wons Inc New York Sidney.

 

 

 

 

 

No Comments Yet.

Leave your comments