Reproduksi Atung si Rusa Bawean

Reproduksi Atung si Rusa Bawean

Oleh : drh. Ristaqul Husna Belgania (Divisi Reproduksi BBPKH Cinagara)

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang akan digelar bulan Agustus nanti. Semarak dan semangat perhelatan olahraga terbesar se-Asia sangat terasa di lingkungan kita dengan berbagai kegiatan, media, iklan, dan publikasi yang menampilkan logo dan maskot Asian Games 2018, Bhin-Bhin, Kaka, dan Atung. Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan Atung, maskot Asian Games 2018 yang berwujud rusa Bawean (Axis kuhlii Temminck, 1836) berwarna coklat muda dan mengenakan sarung bermotif tumpak. Karena rusa dikenal dengan kecepatannya saat berlari, Atung dipilih sebagai simbol kecepatan. Atung merepresentasikan Rusa Bawean, jenis rusa kecil yang merupakan satwa endemik khas Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur dan terletak di Laut Jawa kurang lebih 150 km utara Pulau Jawa (Semiadi et al., 2015).

3690826448.jpg

Gambar 1 Profil Atung

Sumber : www.asiangames2018.id

Rusa Bawean merupakan satwa yang dilindungi Pemerintah dengan adanya SK Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970 dan PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Keberadaan rusa Bawean terus dipantau oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Hewan nokturnal ini juga masuk daftar Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai Appendix I, yakni hewan yang paling dibahayakan karena terancam punah sehingga tidak boleh diburu dan diperjualbelikan (CITES 2000). Sejak tahun 2008 rusa yang hanya ada di Pulau Bawean ini telah dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature ( IUCN ) Red List of Threatened Species karena jumlah populasinya semakin menurun karena perburuan liar, perubahan habitat, kehilangan habitat, fragmentasi habitat, dan eksploitasi hutan sekunder sebagai habitat alami dengan penanaman pohon jati (Tectona grandis).

IUCN Red List of Threatened Species (2015) menyarankan beberapa tindakan untuk melestarikan rusa Bawean diantaranya dengan meningkatkan populasi dan memperluas habitat rusa serta menginisiasi program koordinasi pengembangbiakan (breeding) untuk evaluasi. Untuk penyelamatan rusa Bawean ke depan diharapkan juga dapat menggunakan teknologi bioreproduksi namun diperlukan pengetahuan tentang reproduksi alami secara anatomi, fisiologi, dan tingkah laku sehingga dapat dilakukan manipulasi reproduksi dengan teknologi bioreproduksi.

Sistem Reproduksi Rusa Bawean Jantan

Anatomi organ reproduksi rusa Bawean jantan secara umum sama dengan hewan ruminansia dan bangsa Cervidae (rusa) lain. Organ reproduksi rusa Bawean jantan terdiri atas gonad (testis), saluran reproduksi (epididimis, duktus deferens, dan uretra), kelenjar-kelenjar asesoris kelamin (ampula, kelenjar vesikularis, dan kelenjar bulbouretralis), dan organ kopulatoris (penis). Sama seperti bangsa rusa pada umumnya, ranggah atau tanduk pada rusa bawean hanya dimiliki oleh rusa jantan. Ranggah merupakan organ asesoris kelamin sekunder pada famili Cervidae jantan yang tumbuh dan berkembang setelah mencapai masa pubertas (Wallace dan Birtles 1985). Ranggah mulai tumbuh saat rusa Bawean jantan berusia delapan bulan. Jika dilihat dari keberadaan ranggahnya, maka Atung si maskot Asian Games 2018 ini adalah rusa jantan.

Rusa Bawean - Beritabawean.png

Gambar 2 Rusa Bawean Jantan dengan Tanduk Bercabang Tiga

Sumber : www.beritabawean.com

Seperti bangsa Cervidae lain, diduga rusa Bawean jantan mempunyai pola aktivitas reproduksi (reproduction cycle) yang mengikuti siklus ranggah (annual antler cycle) . Hal ini kemungkinan berpengaruh terhadap aktivitas tubuli seminiferi, kualitas semen, dan kemampuan mengawini betina. Terdapat empat tahap pertumbuhan ranggah yaitu tahap pedicle (dasar ranggah), tahap ranggah velvet, tahap ranggah keras, tahap lepas ranggah (casting). Korelasi aktivitas reproduksi dengan siklus ranggah ini telah dilaporkan pada rusa timor (Cervus timorensis) jantan yang telah memasuki tahap pubertas. Hasil penelitian Handarini dan Nalley (2008) ini menunjukkan adanya sinkronisasi antara siklus ranggah (annual antler cycles) dengan pola hormonal serta aktivitas reproduksi (reproduction cycle) rusa Timor. Sesuai dengan pengamatan Woodford (1991) baik pada rusa tropis maupun temperate sama-sama mempunyai annual antler cycles. Konsentrasi hormon testosteron meningkat pada tahap ranggah keras diiringi dengan inisiasi tingkah laku rutting dan aktivitas perkawinan.

Ranggah rusa Bawean tidak langsung menjadi tanduk tetap tetapi awalnya berupa tonjolan yang ada di samping dahi lalu tumbuh memanjang lengkap bercabang tiga pada usia 20 sampai 30 bulan dan mengalami proses patah tanggal untuk digantikan dengan tanduk baru. Seperti bangsa Cervidae jantan dewasa umumnya, rusa Bawean melewati empat tahap pertumbuhan ranggah, yaitu tahap pedicle, tahap ranggah muda (velvet), tahap ranggah keras (hard antler), dan tahap lepas ranggah (casting) (Fennessy dan Suttie 1985). Setiap spesies memiliki durasi tahap pertumbuhan ranggah yang berbeda-beda diduga karena adanya perbedaan spesies, perbedaan bobot badan, serta bentuk dan ukuran ranggah (Wahyuni et al. 2011). Pada tahap akhir dari pertumbuhan ranggah lunak (velvet), akan terjadi proses pengelupasan kulit velvet yang dikenal dengan shedding sebagai indikasi rusa memasuki tahap ranggah keras. Tahap ranggah keras merupakan tahap terpanjang dari siklus pertumbuhan ranggah, pada rusa Bawean dilaporkan tahapan ini berlangsung selama 8 bulan (Semiadi et al. 2003). Ranggah akan menetap dan tidak lagi patah tanggal ketika rusa Bawean menginjak umur tujuh tahun.

Korelasi aktivitas reproduksi dengan siklus ranggah ini dimulai pada tahap awal pertumbuhan velvet dimana konsentrasi Luteinizing Hormone (LH) lebih rendah dibanding tahap pertumbuhan pedicle. Mendekati pertengahan tahap pertumbuhan velvet konsentrasi LH meningkat kembali dan akhirnya turun pada akhir tahap pembentukan velvet. Respons hormon testosteron meningkat pada tahap akhir pertumbuhan pedicle sampai awal tahap pertumbuhan velvet, kemudian konsentrasinya turun kembali sampai akhir pembentukan velvet (mulai terjadi pengelupasan). Ketika rusa jantan mulai menampakan tingkah laku rutting (pada tahap ranggah keras), respons hormon testosteron sangat tinggi terhadap sekresi LH dari hipofisis. Respons ini sangat berbeda dengan hewan jantan pada umumnya, hormon testosteron rusa jantan tinggi selama tahap ranggah keras (Brown et al. 1983 dalam Manik 2011). Konsentrasi hormon testosteron yang tinggi pada tahap ini dan mempunyai korelasi terhadap tingkat fertilitas rusa jantan (Bubenik et al. 1991). Konsentrasi hormon testosteron meningkat pada tahap ranggah keras diiringi dengan inisiasi tingkah laku rutting dan aktivitas perkawinan. Pubertas atau dewasa kelamin pada jantan ditandai oleh kesanggupan berkopulasi (kawin) dan menghasilkan sperma, serta perubahan-perubahan kelamin sekunder lain.

Sistem Reproduksi Rusa Bawean Betina

Rusa Bawean betina tidak memiliki ranggah atau tanduk. Anatomi organ reproduksi rusa Bawean betina secara umum sama dengan hewan ruminansia dan bangsa Cervidae lain. Organ reproduksi rusa Bawean betina primer yakni gonad (ovarium), organ reproduksi sekunder terdiri dari oviduk, uterus, serviks, vagina, dan vulva. Fungsi organ-organ tersebut adalah menerima dan mempersatukan sel kelamin jantan dan betina, memelihara, dan melahirkan individu baru. Kelenjar susu dihubungkan sebagai alat pelengkap kelamin karena berhubungan erat dengan reproduksi dan memberi makan anak yang dilahirkan. Pada rusa Bawean ovarium kiri cenderung lebih aktif untuk melakukan ovulasi dan menghasilkan folikel dibandingkan dengan ovarium kanan, hal ini dilaporkan Drajad dalam Semiadi (2006) dengan perbandingan 5:2. Rusa betina mengalami pubertas saat berusia 15-18 bulan dan menunjukkan gejala berahi sebagai tanda bersedia menerima pejantan dalam perkawinan.

Hasil Pengamatan Nurcahyo et al. (2015) lama siklus berahi rusa bawean betina antara 17-19 hari dan terbagi menjadi empat fase yakni pro estrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Tanda-tanda berahi pada rusa betina adalah nafsu makan berkurang, tidak tenang, berdiri tenang apabila dinaiki pejantan atau sesama betina, sering kencing, mencium dan menjilat alat kelamin jantan, vulva (alat kelamin betina paling luar) terlihat membengkak, merah, dan apabila dipegang terasa hangat. Perubahan fase pada siklus estrus juga mempengaruhi kondisi vagina, pada fase proesrtrus vagina tampak kemerahan, kemudian menjadi bengkak saat fase estrus, di fase metestrus vagina menjadi agak pucat, dan saat vase diestrus vagina menjadi pucat.

Rusa Bawean - Beritabawean.png

Gambar 2 Rusa Bawean Betina Tidak Bertanduk

Sumber : www.beritagresik.com

Infografis rusa bawean.png

Perkawinan, Kebuntingan, dan Kelahiran

Rusa Bawean tidak memiliki musim kawin yang tetap, pejantan dan betina akan kawin saat keduanya mengalaami berahi tetapi kebanyakan terjadi saat musim kemarau di bulan juli hingga november. Axis kuhlii berkomunikasi dengan vokalisasi secara singkat dengan menyalak tajam. Rusa jantan dan betina membuat suara-suara, panggilan sedikit lebih tinggi dari gonggongan bernada dibuat oleh rusa jantan. Umumnya, satu panggilan terdiri dari 5-10 gonggongan, terdengar oleh manusia hingga 100 meter. Sebelum perkawinan pada rusa Bawean biasanya didahului dengan persaingan para pejantan untuk memperebutkan betina. Bekas gosokan tanduk pada batang pohon menjadi petunjuk bagi rusa betina yang mengeluarkan cairan dari celah-celah jarinya.

Hasil laporan Blouch dan Atmosoedirdjo (1987) serta Whitehead (1993) dalam Semiadi (2015) menyatakan periode gestasi / masa kebuntingan rusa bawean adalah 225-230 hari atau sekitar 7-8 bulan. Aktivitas kelahiran (partus) pada rusa sama seperti halnya mamalia lainnya, terdiri dari tiga tahap yakni kontraksi uterus, pengeluaran anak (foetus), dan pengeluaran placenta. Rusa Bawean termasuk golongan beranak tunggal dan kasus kembar ada tetapi sangat jarang. Mayoritas kelahiran terjadi di musim hujan dari Februari-Juni, saat makanan cukup melimpah untuk induk melahirkan dan anaknya meskipun kelahiran sesekali dapat terjadi dalam bulan-bulan lain. Berat lahir anak rusa Bawean betina antara 1,0-1,5 kg sementara anak jantan sebesar 1,5-2,0 kg. Dalam penangkaran, reproduksi dapat terjadi sepanjang tahun, dengan menjaga interval birth betina 9 bulan namun di alam rusa betina tidak mungkin dapat meningkatkan lebih dari satu rusa per tahun. Induk rusa menyusui anaknya sampai berumur 4 bulan, agar anak rusa mendapat air susu lebih banyak.

Menurut Semiadi ,dkk (2015) jumlah populasi rusa Bawean diperkirakan cenderung stabil sekitar 250-300 ekor di habitat aslinya, meskipun belum ada survey secara sistematis untuk memastikan jumlah pasti di alam. Sebagai warga Indonesia yang baik, kita harus ikut melestarikan rusa Bawean sebagai satwa endemik dan sumber daya genetika hayati (SDGH) asli Indonesia. Diharapkan ke depannya, akan semakin banyak penelitian dan pengembangan teknologi reproduksi tentang rusa Bawean untuk menyelamatkan menyelamatkannyadari kepunahan. (RHB)

Daftar Pustaka

Bubenik GA, Bubenik AB. 1987. Recent advances in studies of antler development and neuroendocrine regulation of the antler cycle. Di dalam: Wemmer CM, editor. Biology and Management of the Cervidae. Washington: Smithsonian Institution Press. hlm 99-109.

Bubenik GA, Schams D, Coenen G. 1987. The effect of artificial photoperiodicity and antiandrogen treatment on the antler growth and plasma levels of LH, FSH, testosterone, prolactin and alkaline phosphatase in male white-tailed deer. Comp Biochem Physiol A Comp Physiol 87(3):551-9.

Fennessy PF, Suttie JM. 1985. Antler Growth: Nutritional and Endocrine Factors. Di dalam: Fennessy PF, Drew KR, editor. Biology of Deer Production. New Zealand: The Royal Society of New Zealand Bull. hlm 239-25

Handarini R. 2006. Pola dan Siklus Pertumbuhan Ranggah Rusa Timor Jantan (Cervus timorensis). J Agr Pet 2:28-35.

Handarini R., Nalley W. M. 2008. Profil Hormon Testosteron Rusa Timor (Cervus timorensis) Jantan Dalam Satu Siklus Ranggah. J Media Konservasi (13)3: 1 – 7

Manik, Lidya Elizabeth M. 2011. Anatomi Organ Reproduksi Muncak (Muntiacus muntjak muntjak) Jantan pada Tahap Ranggah Keras. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nurcahyo, W., Anggraeni, D., Imron, M.A. 2015. Monitoring of Physiological and Parasites Status of Bawean Deer (Axis kuhlii) in its Habitat as a Baseline for Wildlife Conservation Endeavor. J Sain Vet 33(2): 126-133

Pattiselanno, F.o ,Tethool, A. N., Seseray D. Y.. 2008. Karakteristik morfologi dan praktek pemeliharaan Rusa Timor di Manokwari. Berkala Ilmiah Biologi (7) 2: 61-67

Semiadi, G., Subekti, K., Sutama I.K.,. Masy'ud, B, dan Affandy. L. 2003. Antler's growth of the endangered and endemic Bawean Deer (Axis kuhlii Muller and Schlegel, 1842). Treubia 33 (t): 89-95.

Semiadi, G. 2006. Biologi Rusa Tropis. Puslit Biologi LIPI.Bogor

Semiadi, G., Duckworth, J.W. & Timmins, R. 2015. Axis kuhlii. The IUCN Red List of Threatened Species 2015: e.T2447A73071875. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2015-2.RLTS.T2447A73071875.en. Diakses  19 Juli 2018.

Wahyuni S, Agungpriyono S, Agil M, Yusuf TL. 2011. Morfologi dan Morfometri Pertumbuhan Ranggah Velvet Muncak Jantan (Muntiacus muntjak muntjak). J Ked Hew 5:17-22.

https://asiangames2018.id/about/mascots Diakses  19 Juli 2018.

No Comments Yet.

Leave your comments