Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Ribuan Petugas Kesehatan Hewan Dalami Deteksi Dini Retensi Plasenta demi Jaga Produktivitas Ternak

25/06/2026 12:00:00 Admin Satker 11

Bogor – Sebanyak 1.560 petugas kesehatan hewan, paramedik veteriner, akademisi, mahasiswa, dan pelaku usaha peternakan dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Bertani On Cloud (BOC) Volume 356 bertema "Tanggap Pasca Melahirkan: Deteksi Dini Retensi Plasenta pada Ternak" yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Kamis (25/6/2026).

 

Webinar yang disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting dan YouTube tersebut mengangkat pentingnya deteksi dini serta penanganan retensi plasenta, salah satu gangguan reproduksi pasca melahirkan yang berpotensi menurunkan produktivitas ternak apabila tidak ditangani secara tepat.

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan peternakan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan populasi ternak, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mendukung seluruh rantai produksi.

 

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan pengembangan kompetensi merupakan investasi jangka panjang dalam membangun sektor peternakan yang tangguh dan berdaya saing.

 

"BPPSDMP terus mendorong UPT pelatihan menghadirkan program pengembangan SDM yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Melalui pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan pembelajaran digital seperti Bertani On Cloud, kami ingin memastikan tenaga kesehatan hewan memiliki kompetensi yang adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan gangguan reproduksi ternak," ujar Arsanti.

 

Kegiatan dibuka oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Tedy Dirhamsyah, yang menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan hewan menjadi bagian penting dari strategi Kementerian Pertanian dalam mendukung peningkatan populasi sapi nasional menuju swasembada daging.

 

"Retensi plasenta bukan sekadar gangguan pasca melahirkan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi infeksi reproduksi, menurunkan tingkat kebuntingan, memperpanjang jarak beranak, bahkan meningkatkan risiko kematian induk dan afkir dini. Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya akan memengaruhi peningkatan populasi ternak. Karena itu, kompetensi tenaga kesehatan hewan dalam melakukan deteksi dini dan penanganan yang tepat harus terus diperkuat," kata Tedy.

 

 

Ia menambahkan, UPT Kementerian Pertanian di bawah Pusat Pelatihan Pertanian, termasuk BBPKH Cinagara, terus didorong menghadirkan program pengembangan kompetensi yang menjawab kebutuhan lapangan melalui pelatihan, bimbingan teknis, sertifikasi kompetensi, dan webinar tematik.

 

Sementara itu, Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, mengatakan pihaknya terus memperkuat kapasitas SDM kesehatan hewan melalui pengembangan program pelatihan dan sertifikasi yang relevan dengan perkembangan sektor peternakan.

 

"Kami terus menghadirkan pelatihan dan skema sertifikasi kompetensi, termasuk di bidang reproduksi ternak, agar tenaga kesehatan hewan memiliki kemampuan yang semakin baik dalam menangani kasus-kasus reproduksi, seperti retensi plasenta. SDM yang kompeten akan berkontribusi pada peningkatan produktivitas sekaligus populasi ternak nasional," ujarnya.

 

Dalam webinar tersebut, Widyaiswara BBPKH Cinagara drh. Dwi Walid Retnawaty menjelaskan bahwa retensi plasenta merupakan gangguan reproduksi yang cukup sering dijumpai pada ternak pasca melahirkan dan membutuhkan penanganan yang cepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

 

"Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan retensi plasenta. Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang mencegah infeksi rahim, gangguan kesuburan, hingga penurunan produktivitas induk. Karena itu, tenaga kesehatan hewan maupun peternak perlu memahami tanda-tanda klinis serta langkah penanganan yang tepat," jelas Dwi Walid.

 

Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi diskusi dan tanya jawab. Beragam persoalan yang dihadapi di lapangan menjadi bahan pembahasan bersama, mulai dari identifikasi dini kasus hingga penerapan penanganan reproduksi ternak yang sesuai dengan kaidah kesehatan hewan.

 

Melalui penyelenggaraan BOC Volume 356, BBPKH Cinagara berharap penguatan kompetensi SDM kesehatan hewan dapat terus menjawab tantangan di lapangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas ternak, penguatan populasi sapi nasional, dan percepatan terwujudnya swasembada daging.