Siap Jadi Etalase Adaptasi Inovasi Teknologi, UPT Kementan Perkuat Kolaborasi StrategisLintas Institusi
Bogor – Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara terus memperkuat peran strategis dalam mendukung transformasi sektor peternakan dan kesehatan hewan melalui kolaborasi lintas institusi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dilaksanakan pada Rabu, (15/04/2026), bersama empat mitra strategis, yakni Pusat Riset Veteriner BRIN, Pusat Riset Peternakan BRIN, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Veteriner, serta Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor.
Kerja sama ini menjadi langkah konkret BBPKH Cinagara dalam menyiapkan diri sebagai etalase adaptasi inovasi teknologi, khususnya di bidang kesehatan hewan dan peternakan. Melalui sinergi ini, BBPKH tidak hanya berperan sebagai lembaga pelatihan, tetapi juga sebagai pusat diseminasi teknologi terapan yang siap diimplementasikan oleh para pemangku kepentingan di lapangan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kolaborasi antar lembaga menjadi kunci dalam mempercepat hilirisasi inovasi pertanian. Menurutnya, hasil riset harus mampu diimplementasikan secara nyata di lapangan agar memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani dan peternak.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas SDM menjadi fondasi utama dalam mendorong keberhasilan adopsi teknologi.
“Pelatihan yang terintegrasi dengan kebutuhan lapangan dan perkembangan inovasi menjadi kunci dalam menciptakan SDM pertanian yang profesional, mandiri, dan berdaya saing,” ujarnya.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menambahkan bahwa kolaborasi ini memiliki nilai strategis dalam menjembatani hasil riset dengan kebutuhan praktis di sektor peternakan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap inovasi yang dihasilkan oleh lembaga riset dapat diadopsi secara efektif oleh sumber daya manusia di lapangan melalui pelatihan yang aplikatif, adaptif, dan berbasis kebutuhan,” ujarnya.
Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan bimbingan teknis, pemanfaatan sarana dan prasarana secara bersama, serta penyediaan narasumber kompeten dari masing-masing institusi. Selain itu, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan kurikulum pelatihan berbasis inovasi terkini serta uji coba teknologi di lingkungan pelatihan.
Dengan terjalinnya kerja sama ini, BBPKH Cinagara diharapkan mampu menjadi hub integrasi antara riset, pelatihan, dan implementasi teknologi. Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan hewan sekaligus produktivitas peternakan nasional.
Ke depan, BBPKH Cinagara akan terus memperluas jejaring kemitraan strategis guna memperkuat posisinya sebagai pusat unggulan pelatihan sekaligus etalase inovasi teknologi yang adaptif, responsif, dan berdaya saing tinggi.
(Ristaqul Husna Belgania dan Yudi Maulana)