UPT Pelatihan Kementan Dorong Penyuluh Sumsel Kuasai Teknologi dan Mekanisasi Pertanian
Palembang — Transformasi pertanian modern tidak lagi hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi dan mekanisasi di lapangan. Menjawab tantangan tersebut, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara menggelar Pelatihan Teknis Penyuluh Pertanian Angkatan 1 dan 2 di SMKPP Sembawa, Palembang, Sumatera Selatan, pada 20–22 Mei 2026.
Pelatihan ini difokuskan untuk memperkuat kapasitas penyuluh pertanian dalam menghadapi perkembangan pertanian modern, khususnya di bidang digitalisasi penyuluhan, pengelolaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), serta literasi keuangan usaha tani.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa modernisasi pertanian harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi SDM pertanian di lapangan.
“Kita ingin pertanian Indonesia semakin modern, efisien, dan produktif. Karena itu, penyuluh pertanian harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan menjadi penghubung inovasi kepada petani,” ujar Mentan Amran.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti. Menurutnya, penyuluh pertanian saat ini dituntut tidak hanya memahami teknis budidaya, tetapi juga mampu mendampingi petani dalam pemanfaatan teknologi dan penguatan kelembagaan usaha tani.
“Penyuluh harus adaptif terhadap perubahan. Penguasaan teknologi, literasi digital, dan kemampuan manajerial menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan pertanian modern,” kata Santi.
Sebagai UPT pelatihan di bawah BPPSDMP Kementerian Pertanian, BBPKH Cinagara terus mendorong peningkatan kualitas penyuluh melalui pelatihan yang aplikatif dan berbasis kebutuhan lapangan. Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, mengatakan bahwa penguatan kapasitas penyuluh menjadi investasi penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan pertanian.
“Penyuluh pertanian memiliki peran besar dalam mempercepat adopsi teknologi di tingkat petani. Karena itu, kompetensi mereka harus terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan pertanian yang semakin kompleks,” ujar Inneke.
Pelatihan ini diikuti oleh 70 peserta yang berasal dari Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir. Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti pembelajaran selama 24 jam pelajaran (JP) melalui metode ceramah, diskusi, dan praktik penggunaan alsintan.
Kegiatan pembukaan dihadiri Krishna Pusparini, selaku Analis Perkarantinaan Tumbuhan Muda dari BRMP, Ridwan selaku Pelaksana dari BRMP, Titin Pransisca dari SMKPP Sembawa, serta perwakilan penyelenggara pelatihan dari BBPKH Cinagara Bogor, Heru Mulyadi.
Widyaiswara Ahli Madya BBPKH Cinagara, Wilmy Rahmah Wirondas, menekankan pentingnya implementasi hasil pelatihan di wilayah kerja masing-masing.
“Setelah pelatihan ini, penyuluh diharapkan mampu memanfaatkan teknologi digital dalam penyuluhan, memahami pengelolaan keuangan usaha tani, mengendalikan OPT secara efektif, serta mengelola alsintan dengan baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari selesainya kegiatan, tetapi dari sejauh mana ilmu yang diperoleh mampu diterapkan dalam mendampingi petani dan meningkatkan produktivitas pertanian di daerah.
Melalui pelatihan ini, BBPKH Cinagara berharap penyuluh pertanian di Sumatera Selatan semakin siap menjadi motor penggerak transformasi pertanian modern sekaligus memperkuat percepatan peningkatan produksi pangan nasional.