Dari Limbah Kopi Ke Palung Ternak : Inovasi Pakan Berbasis Limbah Perkebunan
Oleh : Dayat Hermawan (Widyaiswara Madya – BBPKH Cinagara)
Ketersediaan pakan ternak yang cukup dan terjangkau merupakan salah satu tantangan utama dalam pengembangan sektor peternakan di Indonesia. Pakan sering kali menyumbang hingga sekitar 70-80% dari total biaya produksi ternak, terutama pada usaha sapi potong, ruminansia lain, maupun unggas, sehingga fluktuasi harga bahan pakan konvensional seperti jagung dan kedelai berpengaruh langsung terhadap profitabilitas usaha peternakan. Ketergantungan pada bahan baku pakan yang sebagian besar diimpor, seperti tepung kedelai, juga menimbulkan kerawanan pasokan dan nilai ekonomi yang kurang menguntungkan bagi peternak lokal. Pemanfaatan bahan lokal sebagai sumber nutrien pakan menjadi sebuah kebutuhan strategis untuk menekan biaya sekaligus mengurangi ketergantungan impor pakan ternak.
Di sisi lain, Indonesia termasuk salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia, dengan produksi kopi nasional mencapai ratusan ribu ton per tahun. Misalnya, produksi tanaman kopi Indonesia tercatat mencapai sekitar 762-794,8 ribu ton pada awal 2020-an, dengan kontribusi robusta dan arabika yang signifikan terhadap total produksi komoditas ini. Produksi tersebut tidak hanya menghasilkan biji kopi bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga menghasilkan volume limbah perkebunan yang besar berupa ampas kopi, kulit buah (pulp), dan kulit biji kopi. Secara umum, setiap proses pengolahan kopi menghasilkan limbah dengan proporsi yang cukup besar, hingga puluhan persen dari buah kopi yang diolah dapat menjadi limbah kulit dan ampas jika tidak dimanfaatkan secara optimal....Selengkapnya...