Kementerian Pertanian Percepat Pengembangan Benih Kelapa Kualitas Unggul di Enggano
BENGKULU UTARA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus bergerak cepat memastikan keberlanjutan sektor perkebunan nasional melalui penguatan komoditas strategis. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) program perbenihan kelapa seluas 3.000 hektare yang berpusat di Desa Banjar Sari, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Rabu (15/7/2026).
Hadir langsung memimpin jalannya pemantauan di lapangan, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Teknologi Pengelolaan Irigasi Pertanian, Hendri Sosiawan. Dalam kunjungan strategis ini, beliau didampingi langsung oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawati.
Ditemui secara terpisah di Jakarta, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan sektor hulu perkebunan melalui penyediaan benih berkualitas tinggi merupakan komitmen mutlak Kementan demi mewujudkan swasembada dan kemandirian ekonomi sektor pertanian.
"Kita tidak boleh hanya berfokus pada hasil panen, melainkan harus memperkuat fondasinya sejak dari benih. Melalui kolaborasi yang kuat dan berkesinambungan, pengembangan komoditas kelapa ini tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik, tapi juga diarahkan agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang tinggi demi kesejahteraan masyarakat serta petani di daerah," tegas Mentan Amran.
Kegiatan monev di pulau terluar Provinsi Bengkulu ini menjadi langkah krusial dalam mengawal peta jalan pengembangan komoditas kelapa nasional agar berjalan optimal. Fokus utama pemantauan meliputi peningkatan kualitas benih unggul, pengelolaan kebun induk yang berbasis teknologi modern, hingga penguatan sistem pengembangan perkebunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Hendri Sosiawan, menyatakan bahwa aspek pengelolaan air dan teknologi irigasi pertanian memegang peranan vital dalam memastikan tanaman kelapa pada fase perbenihan ini dapat tumbuh dengan produktivitas maksimal.
“Di kawasan pesisir dan kepulauan seperti Enggano, manajemen air harus dilakukan secara presisi dengan sentuhan teknologi pengelolaan irigasi yang adaptif. Sinergi antara ketersediaan benih berkualitas dan tata kelola air yang tepat menjadi kunci utama keberhasilan program perbenihan kelapa seluas 3.000 hektare ini agar target kebun induk modern bisa tercapai,” ujar Hendri di sela-sela peninjauan lapangan.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti, menyambut baik langkah monitoring ini. Ia menekankan bahwa implementasi teknologi canggih di kebun induk kelapa menuntut kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
"Teknologi modern dan luasnya lahan perbenihan ini tidak akan berdampak optimal tanpa adanya transformasi SDM. Oleh karena itu, jajaran BPPSDMP bergerak simultan guna melatih, mengedukasi, dan mendampingi para petani lokal agar mereka siap mengadopsi pertanian modern berbasis digital dan berkelanjutan," jelas Idha Widi Arsanti dari ruang kerjanya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawati, selaku unit pelaksana teknis di bawah BPPSDMP yang mendampingi langsung jalannya monev, menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengawal proyek strategis ini.
"Selain meninjau langsung kondisi riil di lapangan, momentum ini menjadi wadah krusial untuk mempererat sinergi antara pusat dan daerah dalam membangun sektor perkebunan yang adaptif terhadap tantangan modern" pungkas Inneke.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat tersebut, program perbenihan di Enggano diharapkan tidak hanya mampu menyuplai kebutuhan benih unggul nasional—termasuk mendukung potensi pengembangan komoditas serupa di wilayah sentra lainnya seperti Kalimantan Selatan—tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan guna mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat.