AWO Muda Siap Berkarya BBPKH Cinagara dan Polbangtan YOMA Cetak 61 Penggerak Kesejahteraan Hewan
Magelang – Upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) peternakan yang profesional dan berdaya saing terus diperkuat melalui kolaborasi antara Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang. Sebanyak 61 mahasiswa Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan resmi menyelesaikan Pelatihan Animal Welfare Officer (AWO) yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 27 Juli hingga 2 Agustus 2026, di Kampus Polbangtan Yogyakarta Magelang.
Pelatihan yang berlangsung selama 56 jam pelajaran tersebut menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan calon penyuluh peternakan yang tidak hanya menguasai aspek teknis budidaya, tetapi juga memiliki kompetensi dalam menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) sesuai standar nasional.
Kepala BBPKH Cinagara Inneke Kusumawaty menegaskan bahwa pembangunan subsektor peternakan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memahami pentingnya penerapan kesejahteraan hewan di setiap mata rantai produksi.
"Penerapan prinsip kesejahteraan hewan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem peternakan modern. Melalui pelatihan ini, kami ingin menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi teknis sekaligus mampu menjadi agen perubahan dalam mengimplementasikan animal welfare di tingkat peternakan, rumah potong hewan, maupun rumah potong unggas. SDM yang kompeten akan menjadi fondasi penting dalam menghasilkan produk pangan asal hewan yang berkualitas, aman, dan berdaya saing," ujar Inneke.
Menurutnya, kompetensi Animal Welfare Officer kini menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi lulusan penyuluhan peternakan dan kesejahteraan hewan. Sebagai calon pendamping masyarakat dan pelaku usaha peternakan, mahasiswa dituntut mampu mengedukasi sekaligus memastikan penerapan prinsip kesejahteraan hewan mulai dari peternakan ruminansia, peternakan unggas, hingga fasilitas pemotongan hewan.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian nasional.
"Pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan SDM yang kompeten, adaptif, dan profesional. Melalui peningkatan kapasitas generasi muda, kita membangun fondasi kuat untuk mewujudkan sistem peternakan yang maju, modern, dan mampu mendukung swasembada pangan nasional," tegas Menteri Pertanian.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsantimenyampaikan bahwa perguruan tinggi vokasi memiliki peran strategis dalam menghasilkan lulusan yang siap menjawab tantangan sektor pertanian dan peternakan masa depan.
"Kolaborasi antara lembaga pendidikan vokasi dan unit pelatihan menjadi langkah nyata dalam menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri. Sertifikasi dan penguasaan kompetensi Animal Welfare Officer akan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa ketika terjun ke dunia kerja maupun mendampingi pelaku usaha peternakan,"ujarnya.
Kegiatan yang diselenggarakan melalui berbagai metode pembelajaran yang komprehensif ini meliputi penyampaian teori, diskusi interaktif, demonstrasi, hingga praktik lapangan.
drh. Heris Kustiningsih mengungkapkan bahwa kurikulum pelatihan disusun mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Animal Welfare Officer yang diterbitkan Kementerian Ketenagakerjaan, mencakup 12 unit kompetensi yang diperkuat dengan materi dasar dan materi penunjang sehingga sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan dunia kerja saat ini.
Melalui sinergi BBPKH Cinagara dan Polbangtan Yogyakarta Magelang, lahirnya 61 Animal Welfare Officer mudadiharapkan menjadi energi baru dalam memperluas penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia. Kehadiran mereka akan menjadi motor penggerak terciptanya sistem peternakan yang lebih profesional, berkelanjutan, dan berdaya saing, sekaligus mendukung terwujudnya swasembada produk hewan yang aman, sehat, utuh, halal, dan berkualitas (ASUH).