Kolaborasi UPT Kementan Tingkatkan Kompetensi Petugas Pengambil Contoh, Perkuat Surveilans Penyakit Hewan Nasional
SUBANG – Kementerian Pertanian terus memperkuat sistem kesehatan hewan nasional melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang veteriner. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Petugas Pengambil Contoh (PPC) Bidang Kesehatan Hewan yang diselenggarakan Balai Veteriner Subang bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara pada 13–17 Juli 2026.
Pelatihan diikuti petugas Balai Veteriner Subang serta dokter hewan dan paramedik veteriner dari dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan di sejumlah kabupaten/kota wilayah kerja Balai Veteriner Subang, di antaranya Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Subang, Cirebon, Ciamis, Kuningan, Indramayu, dan Tasikmalaya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan hewan merupakan bagian penting dalam menjaga produktivitas peternakan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit hewan sangat ditentukan oleh kecepatan deteksi di lapangan yang didukung sumber daya manusia yang kompeten.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan pembangunan pertanian yang maju memerlukan SDM yang profesional, adaptif, dan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan sektor pertanian.

"BPPSDMP terus mendorong peningkatan kualitas SDM pertanian melalui pelatihan berbasis kompetensi. Kami ingin memastikan setiap petugas memiliki kemampuan teknis sesuai standar sehingga mampu memberikan pelayanan veteriner yang profesional dan memperkuat sistem kesehatan hewan nasional," kata Idha.
Kepala Balai Veteriner Subang, Putut Eko Wibowo, dalam sambutannya mengungkapkan petugas pengambil contoh memegang peranan strategis sebagai ujung tombak sistem surveilans penyakit hewan. Kualitas sampel yang dihasilkan akan menentukan akurasi hasil pemeriksaan laboratorium yang menjadi dasar penyusunan langkah pengendalian penyakit.
"Petugas pengambil contoh merupakan garda terdepan dalam sistem surveilans kesehatan hewan. Sampel yang berkualitas akan menghasilkan pemeriksaan laboratorium yang akurat sehingga setiap langkah pengendalian penyakit dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan berbasis data," ujarnya saat membuka pelatihan.
Sementara itu, Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi petugas lapangan menjadi salah satu investasi strategis dalam memperkuat sistem kesehatan hewan nasional. Menurutnya, kemampuan melakukan pengambilan sampel sesuai standar operasional dengan menerapkan prinsip biosafety dan biosecurity menjadi fondasi dalam menghasilkan data laboratorium yang valid.
"Kompetensi petugas pengambil contoh harus terus ditingkatkan agar kegiatan surveilans berjalan optimal. Pengambilan sampel yang dilakukan sesuai prosedur akan menghasilkan data laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjadi dasar penyusunan kebijakan pengendalian penyakit yang berbasis bukti," ujar Inneke.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mengikuti praktik lapangan untuk mengasah keterampilan teknis dalam pengambilan berbagai jenis spesimen, seperti darah, serum, swab, jaringan, dan feses sesuai kebutuhan pemeriksaan. Mereka juga mempraktikkan prosedur pengemasan menggunakan sistem triple packaging, pelabelan spesimen, pengisian dokumen pengiriman, serta penerapan cold chain guna menjaga mutu sampel hingga tiba di laboratorium.
Melalui pelatihan ini diharapkan kompetensi petugas pengambil contoh di daerah semakin meningkat sehingga kualitas surveilans, investigasi penyakit, dan pelayanan kesehatan hewan terus diperkuat. Sinergi antara Balai Veteriner Subang, BBPKH Cinagara, serta dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan di daerah diharapkan semakin solid dalam mendukung sistem kesehatan hewan nasional.