Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Inseminator Andal Jadi Ujung Tombak Dongkrak Populasi Ternak dan Swasembada Daging Nasional

10/09/2026 16:00:00 Admin Satker 11

CINAGARA — Upaya mewujudkan swasembada daging nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan ternak, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola reproduksi ternak secara tepat dan profesional. Di titik inilah inseminator memiliki peran strategis sebagai ujung tombak peningkatan populasi dan produktivitas ternak di tingkat lapangan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Bertani on Cloud (BOC) Volume 366 yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Kamis (10/9/2026). Mengangkat tema “Inseminator Andal Dongkrak Swasembada Daging Nasional”, webinar tersebut diikuti 714 peserta dari berbagai daerah di Indonesia melalui Zoom Meeting dan siaran langsung kanal YouTube.

Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa penguatan kompetensi SDM peternakan, khususnya inseminator, menjadi kebutuhan penting dalam mendukung peningkatan populasi ternak nasional. Inseminasi buatan (IB) menjadi salah satu teknologi reproduksi yang dapat mempercepat peningkatan populasi dan mutu genetik ternak apabila didukung tenaga teknis yang kompeten.

drh. Dwi Walid Retnawati yang hadir sebagai narasumber menegaskan pentingnya kompetensi inseminator dalam memastikan keberhasilan pelaksanaan IB di lapangan.

“Inseminator andal sangat berperan penting dalam meningkatkan populasi ternak dan mendukung swasembada daging nasional. Karena itu, setiap inseminator harus memahami dan menguasai teknis pelaksanaan inseminasi buatan secara tepat,” ujar Dwi Walid.

Menurutnya, keberhasilan IB sangat ditentukan oleh ketepatan inseminator dalam memahami kondisi reproduksi ternak, mendeteksi birahi, menentukan waktu inseminasi, serta menjalankan prosedur sesuai standar.

“Teknologi reproduksi harus dibarengi SDM yang kompeten. Inseminator bukan sekadar pelaksana IB, tetapi bagian dari upaya meningkatkan keberhasilan reproduksi dan membangun populasi ternak nasional,” tegasnya.

Sejalan denga hal tersebut Kepala BBPKH Cinagara Inneke Kusumawaty mengatakan peningkatan kompetensi inseminator merupakan bagian penting dalam memperkuat sistem peternakan nasional. Menurutnya, kebutuhan terhadap tenaga teknis yang kompeten harus dijawab melalui pelatihan dan sertifikasi yang berkelanjutan.

“Peningkatan kompetensi inseminator dalam penguasaan teknis inseminasi buatan sangat penting. Dengan SDM yang kompeten dan profesional, kita dapat mendorong peningkatan populasi ternak secara masif sehingga pada akhirnya turut memperkuat upaya mencapai swasembada daging nasional,” ujar Inneke.

Sebagai lembaga pelatihan di bidang kesehatan hewan, BBPKH Cinagara memiliki peran strategis dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalitas SDM peternakan. Penguatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan, pembelajaran, serta sertifikasi agar tenaga teknis memiliki kemampuan sesuai standar dan kebutuhan pembangunan peternakan.

Penguatan SDM tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menempatkan kualitas SDM sebagai salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian dan percepatan swasembada pangan. Dalam berbagai kesempatan, Amran menegaskan bahwa pembangunan pertanian membutuhkan SDM yang mampu mengawal penerapan teknologi dan peningkatan produktivitas di lapangan.

“Penguatan SDM menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian dan percepatan pencapaian swasembada pangan,” tegas Amran dalam arahannya yang dipublikasikan Kementerian Pertanian.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti juga menekankan bahwa penguatan kapasitas SDM merupakan bagian penting dalam mengawal target swasembada secara berkelanjutan. Menurut Idha, SDM pertanian harus memiliki keterampilan, profesionalitas, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pembangunan pertanian modern.

“Kami ingin menyiapkan SDM pertanian yang terampil, profesional, dan siap mendukung pengembangan pertanian serta program strategis nasional,” ujar Arsanti.

Dalam konteks peternakan, arah kebijakan tersebut semakin relevan karena peningkatan produksi daging membutuhkan dukungan dari hulu hingga hilir, termasuk sistem pembibitan, reproduksi, kesehatan hewan, pakan, serta SDM yang mampu menerapkan teknologi secara tepat.

Melalui BOC Volume 366, BBPKH Cinagara kembali membuka ruang berbagi pengetahuan dan memperluas akses pembelajaran bagi insan peternakan di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran 714 peserta menjadi gambaran bahwa peningkatan kapasitas SDM dan pemahaman terhadap teknologi reproduksi menjadi perhatian penting dalam mendukung pembangunan peternakan nasional.

Pada akhirnya, perjalanan menuju swasembada daging nasional bukan hanya persoalan menambah jumlah ternak. Dibutuhkan sistem yang terintegrasi mulai dari pembibitan, reproduksi, kesehatan hewan, pakan, teknologi, hingga penguatan SDM.

Di dalam rantai tersebut, inseminator andal menjadi salah satu garda terdepan. Kompetensi mereka di lapangan menjadi faktor penting untuk memastikan teknologi reproduksi dapat menghasilkan kebuntingan, kelahiran, dan pertumbuhan populasi ternak secara berkelanjutan.