Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

30 Dokter Hewan 4 Provinsi Digembleng, BBPKH Cinagara Perkuat Layanan Puskeswan di Sumatera

01/09/2026 14:52:00 Admin Satker 19

BUKITTINGGI – Pelayanan kesehatan hewan di tingkat masyarakat ditargetkan semakin cepat, tepat, dan profesional setelah 30 dokter hewan dari empat provinsi di Sumatera mengikuti Pelatihan Tematik Pelayanan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang digelar Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bersama Balai Veteriner (BVet) Bukittinggi.

Pelatihan yang resmi dibuka di Aula BVet Bukittinggi, Selasa (1/9/2026), tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan kompetensi dokter hewan di lapangan semakin mampu menjawab kebutuhan pelayanan, mulai dari penanganan kasus kesehatan hewan hingga pemberian layanan yang sesuai standar kepada masyarakat.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dalam membangun pertanian yang kuat, termasuk sektor peternakan dan kesehatan hewan.

“SDM adalah kekuatan utama. Kita membutuhkan tenaga yang kompeten, profesional, dan mampu bekerja cepat di lapangan. Karena itu, peningkatan kompetensi harus terus dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik,” ujar Mentan Amran.

Arah tersebut diperkuat Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, yang menekankan bahwa pelatihan harus memberikan dampak nyata terhadap kinerja peserta setelah kembali ke unit kerja.

“Pelatihan tidak boleh berhenti pada peningkatan pengetahuan. Kompetensi yang diperoleh harus dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kinerja serta pelayanan di lapangan,” kata Idha.

Sebanyak 30 dokter hewan yang mengikuti pelatihan berasal dari empat provinsi, yakni 16 peserta dari Sumatera Barat, 6 dari Riau, 6 dari Jambi, dan 2 dari Kepulauan Riau. Keterlibatan lintas wilayah ini sekaligus memperkuat jejaring dan pertukaran pengalaman antarpraktisi veteriner dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan hewan di daerah masing-masing.

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, mengatakan penguatan kompetensi dokter hewan merupakan investasi penting untuk memastikan pelayanan kesehatan hewan di tingkat masyarakat berjalan semakin profesional.

“Kompetensi SDM menjadi fondasi utama kualitas pelayanan. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan yang dapat langsung diterapkan ketika kembali memberikan pelayanan di wilayah masing-masing,” ujar Inneke.

Menurutnya, kolaborasi dengan BVet Bukittinggi juga menunjukkan pentingnya sinergi antarunit kerja Kementerian Pertanian dalam menjawab kebutuhan peningkatan kapasitas SDM veteriner.

“Ketika lembaga pelatihan dan unit teknis bersinergi, kebutuhan kompetensi di lapangan dapat diterjemahkan menjadi program pelatihan yang lebih tepat sasaran. Harapannya, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui pelayanan kesehatan hewan yang semakin berkualitas,” katanya.
Kepala BVet Bukittinggi, Tangguh Pitona, mengapresiasi sinergi dengan BBPKH Cinagara dalam menghadirkan pelatihan berbasis kebutuhan tersebut.

Menurutnya, peningkatan kompetensi SDM medik dan paramedik veteriner menjadi kebutuhan penting untuk memperkuat pelayanan kesehatan hewan di wilayah kerja BVet Bukittinggi.

“Ini menjadi momentum penting untuk kembali meningkatkan kompetensi SDM medik dan paramedik veteriner. Kami berharap sinergi dengan BBPKH Cinagara terus berlanjut melalui berbagai pelatihan sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Tangguh.

Sementara itu, Widyaiswara BBPKH Cinagara Heris Kustiningsih, mengatakan dampak utama pelatihan diharapkan terlihat pada meningkatnya kemampuan dokter hewan dalam memberikan pelayanan yang efektif dan sesuai standar di Puskeswan.

“Puskeswan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan hewan di masyarakat. Karena itu, kompetensi petugas harus terus diperkuat agar mampu memberikan pelayanan yang tepat, cepat, dan sesuai standar,” ujar Heris.

Menurut Heris, kompetensi yang dibangun dalam pelatihan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi diarahkan pada kemampuan peserta untuk mengidentifikasi persoalan, mengambil keputusan, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata di lapangan.

“Yang kita bangun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi nyata. Harapannya, setelah kembali ke unit kerja masing-masing, peserta dapat langsung mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh,” katanya.

Dari sisi penyelenggaraan, Ketua Tim Kerja Penyelenggara Pelatihan Aparatur dan Nonaparatur, drh. Nafrina Lanniari, M.Si., menjelaskan pelatihan dirancang secara tematik agar materi yang diberikan fokus pada kebutuhan kompetensi pelayanan Puskeswan.

“Pelatihan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan kompetensi pelayanan Puskeswan. Peserta mendapatkan penguatan materi dan pengalaman pembelajaran yang diarahkan agar dapat diterapkan di tempat kerja masing-masing,” jelas Nafrina.

Ia menambahkan, peserta dari empat provinsi juga menjadi kekuatan tersendiri dalam proses pembelajaran karena memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman terkait kondisi, tantangan, dan praktik pelayanan kesehatan hewan di masing-masing daerah.

“Peserta datang dari karakteristik wilayah dan pengalaman pelayanan yang berbeda. Ini menjadi kesempatan untuk saling berbagi praktik, tantangan, dan solusi sehingga pembelajaran tidak hanya berasal dari pengajar, tetapi juga dari pengalaman peserta,” ujarnya.

Kolaborasi BBPKH Cinagara dan BVet Bukittinggi diharapkan menghasilkan dampak berkelanjutan, yakni meningkatnya kualitas pelayanan Puskeswan setelah peserta kembali ke unit kerja masing-masing. Dengan kompetensi yang semakin kuat, dokter hewan diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan hewan yang lebih responsif sekaligus mendukung perlindungan kesehatan hewan dan masyarakat.