Kementan Perkuat Kompetensi SDM Peternakan dalam Penerapan Kesejahteraan Hewan
Magelang — Kesejahteraan hewan menjadi bagian penting dalam mewujudkan praktik peternakan yang profesional, bertanggung jawab, dan berdaya saing. Untuk memperkuat penerapan prinsip tersebut, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara menyelenggarakan Pelatihan Animal Welfare Officer bagi dosen dan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YoMa), Senin (19/10/2026).
Pelatihan yang berlangsung di Kampus Magelang ini dibuka oleh Direktur Polbangtan YoMa, R. Hermawan, dan dihadiri Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty. Sebanyak 35 dosen dan PLP mengikuti kegiatan tersebut untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan prinsip kesejahteraan hewan pada kegiatan pendidikan, praktikum, dan pemeliharaan ternak.
Direktur Polbangtan YoMa, R. Hermawan, mengatakan bahwa penguatan kompetensi dosen dan PLP merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas pendidikan vokasi pertanian, termasuk dalam membentuk pemahaman dan praktik kesejahteraan hewan di lingkungan kampus.

“Pemahaman tentang kesejahteraan hewan harus menjadi bagian dari kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan. Kami berharap melalui pelatihan ini, dosen dan PLP tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan prinsip animal welfare dalam kegiatan pembelajaran, praktikum, dan pemeliharaan ternak, sehingga dapat menanamkan praktik peternakan yang baik kepada mahasiswa,” ujar Hermawan.
Penerapan kesejahteraan hewan juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas pengelolaan peternakan, kesehatan hewan, serta keamanan pangan asal hewan. Karena itu, penguatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung pembangunan pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa profesionalisme SDM pertanian dan peternakan berperan penting dalam menjaga kualitas serta keamanan pangan yang dihasilkan.
“Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kualitas dan jaminan keamanan produk pangan yang dihasilkan. SDM pertanian dan peternakan harus profesional, kompeten, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya pelatihan dan sertifikasi untuk memastikan tenaga profesional memiliki kompetensi sesuai kebutuhan di lapangan.
“Penguatan SDM menjadi fondasi utama pembangunan pertanian. Melalui sertifikasi, pelatihan, dan resertifikasi kompetensi, kita memastikan tenaga profesional di lapangan memiliki kemampuan yang terukur, adaptif, dan mampu memberikan edukasi serta pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Arsanti.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menegaskan bahwa kesejahteraan hewan perlu menjadi bagian integral dari pengembangan sektor peternakan. Penerapannya tidak hanya berkaitan dengan aspek etika, tetapi juga mendukung kesehatan hewan, kualitas produk peternakan, dan daya saing di pasar global.
“Modernisasi peternakan harus tetap selaras dengan etika dan kaidah kesejahteraan hewan. Karena itu, pemahaman mengenai animal welfare perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang peternakan dan kesehatan hewan,” tegas Inneke.

Ia menjelaskan bahwa prinsip kesejahteraan hewan harus diterapkan pada berbagai tahapan penanganan hewan, mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan dan minum, hingga penanganan di laboratorium dan rumah potong hewan. Penerapan prinsip tersebut juga perlu didukung dengan biosekuriti yang baik dan langkah pencegahan penyakit, termasuk penyakit zoonosis.
Dalam lingkungan pendidikan vokasi, dosen dan PLP memiliki peran strategis untuk memastikan penerapan kesejahteraan hewan berjalan secara konsisten. Dosen dapat mengintegrasikan prinsip animal welfare ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran, sedangkan PLP berperan memastikan kegiatan praktikum di laboratorium maupun instalasi ternak berlangsung sesuai kaidah bioetika dan standar yang berlaku.
Selama empat hari pelatihan, peserta diharapkan memperdalam pemahaman mengenai prinsip animal welfare, termasuk konsep Five Freedoms atau Lima Kebebasan Hewan. Prinsip ini menjadi landasan untuk memenuhi kebutuhan dasar hewan serta memastikan hewan terlindungi dari rasa lapar dan haus, ketidaknyamanan, rasa sakit dan penyakit, ketakutan dan stres, serta memiliki kesempatan mengekspresikan perilaku alaminya.
Melalui pelatihan ini, BBPKH Cinagara dan Polbangtan YoMa memperkuat sinergi dalam meningkatkan kualitas SDM pertanian, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Kompetensi yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas profesional sekaligus ditransfer kepada mahasiswa sebagai calon tenaga profesional di sektor peternakan.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan melahirkan SDM peternakan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis, profesionalisme, dan tanggung jawab dalam menerapkan kesejahteraan hewan. Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat berkontribusi dalam membangun praktik peternakan yang lebih baik, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas hasil produksi.