Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Bekali 67 Eks Jurnalis Keterampilan Beternak Ayam Petelur untuk Perkuat Kemandirian Ekonomi

14/10/2026 00:01:00 Admin Satker 15

BOGOR – Membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga, Kementerian Pertanian melaui Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bersama Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor membekali 67 mantan jurnalis berbagai media nasional yang tergabung dalam organisasi Agrijurno dengan keterampilan beternak ayam petelur skala rumahan. Melalui workshop ini, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha produktif yang menopang perekonomian keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan telur secara mandiri.

Workshop ayam petelur tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, pada Rabu (14/10/2026) di aula Rajawali BBPKH Cinagara. Kegiatan ini turut dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Komunikasi Publik, Imam Wahyudi, serta Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty.



Program ini sejalan dengan upaya Kementerian Pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan usaha produktif di sektor pertanian dan peternakan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan potensi sektor pertanian sebagai sumber penghidupan sekaligus mendukung ketersediaan pangan.

Dalam konteks tersebut, budidaya ayam petelur skala rumahan menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga, usaha ini berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Yoyon Haryanto mengatakan workshop ini merupakan salah satu upaya meningkatkan literasi peternakan sekaligus mendorong peserta memanfaatkan peluang usaha di sektor peternakan. Melalui praktik budidaya ayam petelur dengan sistem kandang baterai, peserta diharapkan memiliki bekal untuk memulai usaha dari skala kecil dan mengembangkannya secara bertahap.

“Dari pelatihan ini nantinya setiap peserta akan dibekali 10 ekor ayam, kandang, serta pakan. Dari 10 ekor ayam ini, kami berharap usahanya bisa berkembang menjadi 100, bahkan 1.000 ekor secara bertahap. Mudah-mudahan kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan keluarga, terutama di tengah kebutuhan telur ayam yang semakin meningkat,” ujar Yoyon.

Ia juga berharap para peserta dapat memanfaatkan pengalaman dan kemampuan jurnalistik yang dimiliki untuk memperluas literasi masyarakat mengenai peluang bisnis peternakan. Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan oleh peserta, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui pemberitaan dan edukasi publik.

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menjelaskan bahwa workshop tersebut telah memasuki batch ketiga. Materi pelatihan dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk mengelola usaha ayam petelur secara mandiri.

“Dalam pelatihan batch ketiga ini, peserta dibekali pengetahuan tentang manajemen kandang, pemberian pakan, pemeliharaan dan kesehatan ternak, hingga analisis usaha. Kami berharap keterampilan ini menjadi modal bagi peserta untuk membangun usaha peternakan yang produktif dan berkelanjutan,” kata Inneke.
Menurutnya, pemberian ayam, kandang, pakan, dan vitamin menjadi langkah awal untuk membantu peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama workshop. Pengelolaan yang baik diharapkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan telur keluarga sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan.

Inneke juga berharap para peserta Agrijurno dapat menjadi penggerak literasi bisnis peternakan dengan memanfaatkan pengalaman mereka dalam mengolah informasi dan menyampaikan berita kepada publik. Melalui peran tersebut, pengetahuan tentang budidaya ayam petelur skala rumahan diharapkan semakin dikenal dan dapat mendorong masyarakat melihat peternakan sebagai peluang usaha.

Sejalan dengan upaya tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya pengembangan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mengoptimalkan potensi pertanian dan peternakan sebagai peluang usaha. Pelatihan berbasis praktik diharapkan dapat membekali peserta dengan keterampilan teknis sekaligus kemampuan mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Kolaborasi BBPKH Cinagara dan Polbangtan Bogor ini menjadi salah satu bentuk pengembangan kapasitas masyarakat melalui pelatihan yang menghubungkan keterampilan teknis, kewirausahaan, dan penguatan ketahanan pangan keluarga. Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan dapat mengembangkan usaha secara bertahap sesuai kemampuan dan peluang pasar.



Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Komunikasi Publik, Imam Wahyudi, menegaskan bahwa program ini tidak hanya diarahkan untuk membekali mantan jurnalis dengan keterampilan usaha, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi yang dapat memperkuat independensi profesi jurnalistik.

“Tujuan kita mendorong teman-teman menjadi entrepreneur adalah agar mandiri secara ekonomi. Ketika ekonomi jurnalis sudah kuat, pemberitaan tidak lagi dijadikan alat mencari nafkah, melainkan murni panggilan passion untuk menjaga marwah jurnalistik yang sehat dan berimbang,” ujar Imam.

Ia menekankan bahwa dukungan Kementerian Pertanian terhadap program tersebut tidak boleh dimaknai sebagai tuntutan untuk menghasilkan pemberitaan yang selalu positif. Menurutnya, independensi dan sikap kritis tetap menjadi prinsip utama yang harus dijaga oleh setiap jurnalis.

“Meskipun program ini mendapat dukungan fasilitas dan pelatihan dari Kementerian Pertanian serta Pak Amran, jangan pernah berpikir teman-teman diminta membagus-baguskan berita. Silakan tetap menjadi jurnalis yang sejati dan kritis. Kalau ada hal yang tidak benar di sektor pertanian, beritakanlah fakta tersebut dengan cara yang benar,” tegasnya.

Imam juga menjelaskan bahwa pemberian 10 ekor ayam pada tahap awal merupakan sarana pembelajaran untuk membangun kedisiplinan dan konsistensi dalam mengelola usaha. Pengalaman tersebut akan menjadi dasar evaluasi untuk menentukan pengembangan usaha ke skala yang lebih besar.

“Sepuluh ekor ayam pada angkatan pertama dan kedua itu adalah media pembelajaran kedisiplinan. Mengurus sepuluh ayam saja membutuhkan konsistensi luar biasa. Dari sana, teman-teman yang serius kita naikkan kelasnya untuk mengelola 600 ekor ayam secara berkelompok per 10 orang,” jelas Imam.



Melalui workshop ini, BBPKH Cinagara dan Polbangtan Bogor berharap para peserta Agrijurno mampu memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membangun usaha peternakan secara bertahap. Selain membantu memperkuat ketahanan pangan keluarga dan membuka sumber pendapatan baru, program ini diharapkan melahirkan wirausaha peternakan yang turut memperluas literasi bisnis peternakan di tengah masyarakat.