Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
Logo

Kementan Tingkatkan Kompetensi Dosen dan PLP dalam Penerapan Kesejahteraan Hewan

22/10/2026 16:01:00 Admin Satker 8

MAGELANG – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) peternakan melalui penguatan kompetensi tenaga pendidik dalam penerapan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare). Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara dan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan YOMA) yang sukses menyelenggarakan Pelatihan Kesejahteraan Hewan bagi dosen dan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) pada 19–22 Oktober 2026.

Pelatihan yang berlangsung di Magelang dan Baturaden, Jawa Tengah, tersebut memadukan pembelajaran teori, diskusi, dan praktik lapangan guna meningkatkan kemampuan tenaga pendidik dalam menerapkan prinsip kesejahteraan hewan pada pengelolaan ternak maupun kegiatan pembelajaran vokasi peternakan.

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, mengatakan peningkatan kompetensi dosen dan PLP memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga profesional peternakan yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan hewan.

“Penerapan kesejahteraan hewan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari praktik peternakan modern. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan para tenaga pendidik memiliki kompetensi yang dapat ditransfer kepada mahasiswa, sehingga prinsip kesejahteraan hewan tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diterapkan dalam praktik peternakan,” ujar Inneke.

Penguatan kompetensi tersebut sejalan dengan arah kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menempatkan peningkatan kualitas SDM sebagai salah satu faktor penting dalam mendorong modernisasi dan daya saing sektor pertanian, termasuk subsektor peternakan.nmknjkohu9

Pembangunan peternakan nasional tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga dukungan tenaga profesional yang mampu menerapkan sistem pemeliharaan ternak secara bertanggung jawab, efisien, dan berkelanjutan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga pendidik dalam menghasilkan lulusan pendidikan vokasi pertanian yang kompeten dan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Peningkatan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta penerapan standar peternakan yang semakin baik.

Sementara itu, Direktur Polbangtan YOMA, R. Hermawan, mendukung kolaborasi tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan vokasi peternakan melalui penguatan keterampilan teknis tenaga pendidik yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Selama empat hari, peserta mendapatkan pembekalan dari sejumlah widyaiswara BBPKH Cinagara, yakni Heris Kustiningsih, Nafrina Lanniari, dan Dayat Hermawan. Pelatihan juga menghadirkan Wiwiek Bagja selaku ahli dan praktisi kesejahteraan hewan serta Ismu Alim dari Forum Animal Welfare Officer Indonesia.

Materi pelatihan mencakup identifikasi perilaku dan teknik penanganan ternak, manajemen peternakan dan kesehatan ruminansia, etika dan moral kesejahteraan hewan, penyiapan hewan sebelum penyembelihan, desain fasilitas penanganan ternak, profesionalisme Animal Welfare Officer (AWO), serta kebijakan kesejahteraan hewan di Indonesia.

Widyaiswara BBPKH Cinagara, Heris Kustiningsih, menjelaskan bahwa penerapan kesejahteraan hewan merupakan aspek penting dalam pengelolaan peternakan modern. Menurutnya, pemahaman terhadap perilaku alami, kebutuhan dasar, dan kondisi kesehatan ternak menjadi landasan dalam menciptakan sistem pemeliharaan yang baik sekaligus mendukung produktivitas.

“Kesejahteraan hewan bukan sekadar memastikan ternak mendapatkan pakan dan tempat tinggal yang layak, tetapi juga bagaimana kita memahami kebutuhan fisik dan perilaku alaminya. Melalui pelatihan ini, kami berharap para dosen dan PLP mampu mengintegrasikan prinsip tersebut ke dalam pembelajaran, sehingga mahasiswa terbiasa menerapkannya sejak proses pendidikan,” jelas Heris.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan dilanjutkan dengan observasi lapangan di kandang sapi perah Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturaden, Jawa Tengah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengamati secara langsung pengelolaan sapi perah, perilaku ternak, kondisi lingkungan kandang, serta berbagai aspek yang memengaruhi kesehatan dan kenyamanan hewan. Observasi ini memberikan pengalaman praktis bagi peserta dalam mengidentifikasi sekaligus mengevaluasi penerapan prinsip kesejahteraan hewan pada sistem pemeliharaan ternak.

Inneke menambahkan, penerapan kesejahteraan hewan juga berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pengelolaan usaha peternakan. Penanganan yang tepat, lingkungan pemeliharaan yang baik, serta pengendalian stres pada hewan menjadi faktor penting dalam mendukung kesehatan dan produktivitas ternak.

“Kami berharap hasil pelatihan ini dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan praktikum di Polbangtan YOMA. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kesadaran dan tanggung jawab dalam memperlakukan hewan sesuai prinsip kesejahteraan hewan,” katanya.

Keberhasilan penyelenggaraan pelatihan ini semakin memperkuat sinergi BBPKH Cinagara dan Polbangtan YOMA dalam pengembangan kompetensi tenaga pendidik, sekaligus mendorong penerapan prinsip kesejahteraan hewan secara berkelanjutan dalam kegiatan pendidikan dan praktik peternakan.

Melalui kolaborasi tersebut, Kementan terus berupaya mencetak SDM peternakan yang kompeten, profesional, dan beretika guna mendukung pembangunan peternakan nasional yang produktif, berdaya saing, serta berorientasi pada kesejahteraan hewan.